Sabtu, 28 September 2013

Selamat datang kembali, Goonercoaster!


Laga kontra West Bromwich Albion bertajuk Capital One Cup (COC) yang dikenal dengan sebutan Mickey Mouse Cup. Ya, karena gagang trophy nya menyerupai telinga salah satu karakter kartun Disney, Mickey Mouse!.

Jika anda lebih memilih untuk mempertaruhkan waktu tidur anda demi menonton pertandingan tengah pekan tersebut, yang hanya terdengar sayup-sayup chants dari supporter Arsenal. Maka anda adalah orang yang tahu bagaimana tertidur disaat manusia normal beraktivitas.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Le Professor nampaknya masih mempercayakan wonderkid nya yang lugu dan belum pernah mimpi basah itu untuk mengisi line up malam itu dikarenakan rotasi pemain ditambah beberapa pemain yang cidera.

Memasang Fabianski sebagai garda terakhir dibelakang gawang, Vermaelen-Koscielny berperan menjadi center back. Jenkinson-Monreal dipercaya menjadi wing back untuk membantu serangan dari flank, Arteta-Hayden ditugaskan mengatur alur permainan sebagai double pivot, 'The Next Mario Goetze' a.k.a Thomas Eisfield mengisi post playmaker, flank diisi oleh Gnaby dan Miyaichi, dan untuk striker tentu saja ada Girou.....tunggu! Ah, ternyata bukan Giroud melainkan Bendtner. One of the worldclass striker, katanya.

Ada yang menarik dengan penampilan Bendtner malam itu. Jika anda pernah menonton film The last Samurai maka anda akan menemukan sosok tersebut dilapangan berseragam Arsenal. Keluar dari tunnel dengan wajah penuh percaya diri sembari mengunyah sesuatu. Diduga sesuatu yang dikunyah nya adalah permen karet bekas Sir Alex Ferguson.

Mari kita sampingkan dulu sosok The Last Samurai tersebut. Kalian pernah belajar teori kausalitas ? Ya, sebab akibat. Sejatinya jika anda tidak belajar untuk kuis besok maka jangan harap anda mendapatkan nilai A dari dosen anda. Sama halnya dengan Arsenal, bermateri pemain-pemain muda yang masih minim jam terbang tentu akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti, serangan balik yang tidak bisa di antisipasi, bola liar yang menguntungkan lawan, kemelut didepan gawang yang sering membuahkan kebobolan. Typical Arsenal. Hal ini yang menyebabkan munculnya goonercoaster. Setelah 2 minggu disuguhi permainan yang meyakinkan lalu tiba-tiba anda disuguhi permainan seperti itu, mengerikan.

Anda belum mengetahui goonercoaster ? What shame! You might ask google. Tenang, saya hanya bercanda. Goonercoaster adalah keadaan dimana supporter Arsenal mengalami sport jantung karna buruknya permainan Arsenal. Dianalogikan sebagai coaster karena ketegangan suporter Arsenal dibawa naik turun bak menaiki rollercoaster.

Literally, Arsenal knows how to treat their supporters. Permainan Arsenal malam itu benar-benar mengerikan tapi lebih mengerikan 'Mother Of Martis' di Insidious Chapter 2. Sering kehilangan bola dibidang tengah, kurangnya kreativitas Thomas Eisfield dalam mengatur serangan, buruknya positioning dan penyelesaian terakhir Nicklas Bendtner, dan matinya pergerakan Ryo Miyaichi dan Serge Gnabry di posisi flank. Cukup banyak pekerjaan rumah yang harus diperbaiki oleh Wenger dan Steve Bould.

Ada pengecualian di poin penyelesaian Bendtner. Mengapa Bendtner tidak bisa mencetak gol dalam laga tersebut ? Ya, playmaker yang dipasang hanya lah brondong asal tanah Bavaria yang menjadi korban Arsene Wenger. Lain cerita jika pemain seharga 42 juta pounds yang dipasang dibelakang Bendtner.

Jangan sepenuhnya menyalahkan para pemain muda tersebut, setidaknya mereka mempunyai determinasi dan semangat yang kuat. Mereka membutuhkan waktu untuk mengembangkan potensinya, membangun mental yang kuat. Kelak mereka akan menjadi pemain-pemain tumpuan Arsenal.

Mari kita ambil hal positifnya. Arsenal lolos ke round 4 COC dan akan bertemu Chelsea, melanjutkan rekor kemenangan tandang yang ke 11 berturut-turut dan tentang Nicklas Bendtner, setidaknya potongan rambut ala samurai Jepang akan menjadi trendsetter untuk beberapa bulan kedepan dan mengakuisisi pompadour nya David Beckham, setidaknya.

Well, welcome back again goonercoaster.

Minggu, 11 Agustus 2013

Arema Dan Identitas Diri Bernama Aremania


Saya kurang excited dengan sepakbola lokal. Well said, mungkin karena permainannya yang kurang greget dan memang belum bisa disama ratakan oleh liga di eropa sana atau karna ulah media yang hanya meliput sisi negatif sepakbola Indonesia ? atau ulah para cukong berjas yang menaburkan benih politik kedalam ranah sepakbola. Terlalu banyak alasan betapa saya kurang menyukai sepakbola lokal dan jelas terlihat betapa bobroknya sepakbola Indonesia, sorry to said.

Despite, i rather watching premier league than local league, tidak ada alasan untuk saya untuk benar-benar membenci sepakbola lokal. Dari sekian banyaknya tim sepakbola lokal, saya cukup dibuat 'turned on' oleh 2 tim liga lokal. Yang pertama adalah Persija Jakarta, yang notabene adalah tim kota kelahiran saya, Jakarta. Dan 1 lagi Arema Indonesia.

Didirikan 11 Agustus 1987 dengan nama Arema Malang, Terbentuknya Arema tidaklah semudah merampas permen dari anak kecil. Pendiri Arema, Ovan Tobing dan Lucky Zainal harus berusaha keras mengais dana guna memperbaiki finansial Arema 86 yang sedang mengalami kesulitan finansial Juni 1987 silam. Sampai akhirnya Nirwan Bakrie bersedia memberi kucuran dana bagi Arema dengan catatan pengurus harus mampu menghadirkan penonton lebih banyak daripada Persema. Berbagai macam kendala akhirnya mampu terlewati dan Arema didaftarkan sebagai tim peserta Galatama bersama tiga tim baru yaitu Bandung Raya, Lampung Putra dan Medan Jaya. Sampai akhirnya Acub Zainal, Mantan Gubernur Irian Jaya ke-3 dan juga Ayah dari Lucky Zainal ini sepakat menjadi penyandang dana Arema.

Nama Arema sendiri sebenarnya merupakan hasil dari rapat pengurus. Namun, terdapat beberapa nama alternatif lainnya, seperti Arema 86, Putra Malang dan Aremada. Kata Arema sendiri berasal dari bahasa Jawa yaitu "arek malang" yang berarti anak malang/orang malang. Nama yang sederhana namun memiliki arti besar yang tumbuh melebihi sektor yang digelutinya, Sepakbola. Arema juga Dijuluki "Singo edan". Saya kurang mengerti dimana letak 'keedanannya' singa ini. Apakah semua singa di Malang gila, sehingga membuat warga Malang tertular hingga menjadi gila juga ? atau saya yang gila ? ah.....jelas PSSI lah yang gila. Belakangan ini saya tahu bahwa makna 'edan' dalam konteks ini merupakan kefanatismean suporter Arema yang menjadikan Arema dijuluki "Singo edan".

Sejak hadir di persepak bolaan nasional, Arema sudah menjadi ikon sepakbola nasional sekaligus ikon kota Malang sendiri. Mulai dari kecil, Aremania cilik sudah dididik bagaimana beribadah untuk Arema dengan baik dan benar, kelak dewasa nanti mampu menjaga kesuian ritual-ritual supporter Arema silam.

Banyak pemain yang keluar masuk dari Arema, namun Arema tetap Arema tanpa pemain sekalipun. Mengutip dari kalimat Sir Kenny Dalglish dan Monsieur Arsene Wenger.

"No one bigger than the club" - Kenny Dalglish

 "Player come and go but passion is forever" - Arsene Wenger

Fanatisme dan militansi Aremania sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Tabuh genderang, chants membahana lepas tanpa paksaan hingga pertandingan selesai. Tidak peduli menang, kalah atau seri, semua hanya untuk Arema. Red flare dan pyro tidak lupa memerahkan setiap laga, dan sorakan bak hooliganisme di Inggris atau tifosi di Italia nun jauh disana. Tidak lupa banner-banner dibentangkan disegala penjuru stadion guna mengintimdasi lawan. Banner bertuliskan "DARAH KAMI UNTUK AREMA" "NO PYRO NO PARTY" "ONLY GOD CAN STOP US" selalu menghiasi laga Arema. Sorakan bergemuruh siring permainan dimulai bak suara mesin space shuttle rocket menembus atmosfer.

source: google.com
source: google.com
source: google.com
source: google.com

Begitulah fanatisme Aremania, Arema tidak bisa dilepaskan dari Aremania, begitupun Aremania tidak bisa dilepaskan dari Arema. Mereka satu, padu. Sebuah katarsis dari kerumunan rakyat.

Tepat hari ini, 11 Agustus 2013 Arema genap berusia 26 tahun. Selamat ulang tahun Arema! tetaplah menjadi kebanggaan warga Malang dan Indonesia, terus berprestasi untuk sepakbola Indonesia. Biarpun musim ini Arema tidak juara, tapi Arema akan selalu juara di hati Aremania dan warga Malang.

#AREMA26NUHAT #SASAJI

Kamis, 09 Mei 2013

Carthaginians nya Sepakbola, Arsenal!


They say we are a selling club. Mereka bilang Arsenal adalah klub penjual pemain. Mereka bilang Arsenal adalah supermarket, dimana tempat menjual berbagai macam pemain mulai dari yang masih belia hingga yang sudah uzur, dari yang murah hingga yang mahal. semuanya bisa anda temukan di Arsenal.

Apakah Arsenal sebuah feeder club ? apakah Arsenal supermarket pemain ? apakah Arsenal klub penjual pemain ? Tidak!. Arsenal bukan klub penjual pemain. Arsenal menjual dan membeli. Arsenal tahu cara memutarbalikan uang.

Carthage adalah nama kota yg terletak di afrika utara atau tepatnya di wilayah Tunisia sekarang. Seperti Roma, nama Carthage dipakai sebagai nama kerajaan. Asal muasal kerajaan ini berasal dari timur tengah, tepatnya di pesisir laut mediterania, didaerah itu bermukim bangsa yg terkenal sebagai penguasa lautan yaitu bangsa Phoenicia (Funisia). Bangsa Carthaginians adalah pedagang laut terhebat dari Mediterania kuno. Terkenal dengan kapal cedar, masyrakat berkain ungu, dan pedati. Semenjak ribuan tahun sebelum Masehi, Bangsa Phoenicia telah berlayar ke hampir seluruh eropa, afrika dan asia,

Sama seperti Wenger. Hannibal tokoh yang terkenal dari Carthage mempunyai kekuatan yang hebat dalam hal berdagang. Mereka membeli apa yang orang sebut 'sampah' lalu menjualnya lalu apa yang mereka jual jauh lebih berharga daripada apa yang mereka beli. Seperti Arsenal, bukan ?

Skema kesuksesan keuangan Arsenal dan Dortmund  

Arsenal tidak mungkin mengalahkan klub sugar daddy dalam segi finansial, dinasti oilgarchy saat ini begitu mendominasi di dunia sepakbola. Chelsea, Manchester City, Paris Saint Germain adalah salah tiga dari korban kekuasaan raja minyak. Mereka akan selalu membeli pemain hebat dengan harga yang sangat tinggi. terutama dari Arsenal.

 

Apakah dengan ini akan membuat Arsenal menjadi klub pembeli ? beberapa klub semenjana sudah menganggap arsenal sebagai klub pembeli. Tapi klub sugar daddy dan klub spanyol yang boros akan selalu mempunyai dana yang lebih banyak daripada Arsenal. Jadi, mereka akan membeli pemain dari Arsenal. Jadi, Arsenal akan selalu disebut sebagai klub penjual pemain.

Mereka, you know who. membayar pria rentan cidera berusia 29 tahun sebesar 24 juta poundsterling, lalu Arsenal membeli Cazorla dan Podoski dengan harga yang sama dan dengan kontrak 4 tahun. Lalu Barcelona membayar 15 juta euro untuk Alex Song, entah tradisi atau kebijakan klub, mereka selalu membayar dimuka dan melunasi nya 3 tahun kedepan. lalu Arsenal mendapatkan seorang striker haus gol, Olivier Giroud yang hanya seharga 12 juta euro.

then, they've said Arsenal didn’t strengthen the squad.. Hanya orang idiot yang berkata seperti itu. Arsenal membeli, menjual. Membeli 2 pemain kelas kacangan seperti Robin Van Persie dan Alex Song lalu mengubah nya menjadi pemain kelas dunia yang namanya selalu menjadi headline di media. Dari awal yang tidak menjanjikan menjadi target utama scout klub eropa.

Hanya ada satu alasan Wenger tetap berada di Ashburton Grove hingga saat ini. banyak tawaran menggiurkan datang dari klub yang mampu membayar Wenger berlipat ganda. Atau dia bisa resign dari Arsenal dan membuka online shop, lalu menjual barangnya di ebay. dengan gelar sarjana ekonominya sudah pasti usahanya akan laku keras. Tapi tidak, Le Proffeseur memilih bertahan di Arsenal karna dia tahu dia bisa melakukannya lagi, membawa Arsenal mengangkat tinggi-tinggi trophy premier league dan membawa pulang The"Big Ear" ke rumah, Emirates stadium.

Dia tahu lebih banyak tentang manajemen klub daripada kita ataupun Deddy Courbuzier, dia tahu lebih banyak tentang keuangan klub daripada kita ataupun presiden World Bank, Sri Mulyani. Orang cerdas seperti Wenger tahu apa yang akan ia perbuat untuk  Arsenal.

Kejuaraan tidak dimenangkan oleh pemain yang muncul selama 90 menit seminggu. tetapi oleh seorang manajer visioner yang bekerja 24 x 7 x 365 untuk membangun sebuah tim yang tangguh dan penuh passion,

Rabu, 08 Mei 2013

Farewell, Sir!

 

Dahulu kala, 31 Desember 1941 silam lahirlah seorang anak laki-laki bernama Alex Ferguson di Glasgow, Skotlandia. Tidak ada seorang pun yang mengira bahwa anak laki-laki berwajah merah padam khas keturunan skotlandia tersebut ditakdirkan lahir sebagai satu dari manajer terbaik sepakbola di dataran eropa.

45 tahun kemudian, anak laki-laki ini menjelma menjadi pengasuh sebuah klub semenjana yang kini mempunyai fanbase paling besar di dunia, Manchester United. Awal karir "muka merah" tidaklah semulus paha personil Cherrybelle. Fergi harus berjibaku menghadapi masalah yang sedang menimpa United saat itu.

Jika anda seorang Red Army (nama  supporter Manchester United - red) sudah past ingat mengingat euforia treble 1998 silam ?. Menjadi satu-satunya manajer dari Inggris yang meraih treble dalam 1 musim bukanlah hal yang bisa di lakukan manajer manapun dengan mudah. Dominasi United di musim ini begitu terlihat. Menjadi juara premier league musim 1997-1998, mengalahkan Newcastle United di final FA Cup, membuat one of the best comeback in champion league lalu mengalahkan Munchen. Kita bisa ingat Pita merah-hitam yang melambangkan warna seragam Bayern, yang telah melilit di Piala Liga Champion pun diganti oleh warna merah-putih.

Tidak ada yang mengenal Cristiano Ronaldo saat masih membela Sporting Lisbon, namun Fergie melihat monster yang tersegel di dalam diri Ronaldo dan harus segera dikeluarkan. Dengan dana £12.24 juta, Fergie membawa bocah tersebut ke United. Dengan tangan dingin nya, Ronaldo tumbuh dari pemuda yang hanya di pandang sebelah mata menjadi seorang pemain serba bisa. pemain yang ditakuti oleh pemain bertahan manapun, knuckle shoot nya yang spektakuler mampu membuat mimpi buruk bagi penjaga gawang manapun. Hingga sampai akhirnya Frankestein buatan Fergie ini harus mencari ayah asuh lainnya di Real Madrid.

Diluar kesuksesannya, Ferguson mempunyai sisi buruk di mata kaum penyembah sepakbola. Wasit adalah salah satu objek kekontroversialan Fergie. Mike Riley, Mark Clattenburg dan yang paling fenomenal Howard Webb. Cukup banyak momen kontroversial di era pria berdarah Skotlandia tersebut. Fergie's time termasuk lelucon akibat dari kekontroversialan nya tersebut. Tidak cukup lahan untuk memuat semua momen kontroversial tersebut disini. Tapi, sepakbola akan menjadi sangat hampa tanpa kontroversial.

Lepas dari segala kontroversialnya, kita harus mengangkat topi setinggi-tingginya nya untuk dedikasinya kepada sepakbola inggris. Ferguson adalah One of the best Manager in fooball. Bersama Setan Merah, Fergie meraih 13 gelar juara Premier League, dua trofi Liga Champions, lima Piala FA dan lima gelar Piala Liga. lebih banyak daripada istri Eyang Subur. 26 tahun, 1.498 laga, 38 trofi dan 2.675.723 permen karet yang telah dikunyahnya. dan akhir musimnya nanti, genap 1500 laga berhasil ditukanginya bersama Manchester United.

Namun, pagi waktu setempat, Pria yang mempunyai gelar kebangsaan dari Ratu Elizabeth tersebut mengumumkan untuk pensiun. Keputusan ini begitu mengegerkan dunia. Keputusan pensiun di akhir musim jelas membuat United akan sulit mencari pengganti yang sepadan. 71 tahun, waktu yang terlalu lama untuk memutuskan pensiun.

Kita mungkin akan merindukan Pria pengunyah permen karet tersebut. rindu akan wajah nya yang merah padam saat marah, rindu akan protes berlebihan terhadap wasit, rindu akan kunyahan permen karetnya, rindu akan rambutnya yang semakin memutih, dan rindu akan rivalitasnya dengan Arsene Wenger dan manajer lainnya. Kita semua berharap semoga pengganti Ferguson sepadan. Farewell, Sir!

Sabtu, 04 Mei 2013

Queen Park Rangers vs Arsenal: 3 Poin Wajib

Another Derby London. Arsenal akan melakukan perjalanan singkat ke markas tim rival sekotanya sabtu malam nanti, Queen Park Rangers di Loftus Road. Datang dengan skuad yang hampir lengkap berharap bisa mengambil kembali tahta tiket Liga Champions musim depan dari Chelsea.

The Gunners masih menduduki peringkat ke 4 klasemen Premier League untuk sementara setelah hasil seri 1-1 kontra United minggu lalu. Namun, dengan hanya selisih 1 poin dengan Chelsea dan mereka baru akan bermain hari Minggu nanti ketika mereka mengunjungi Old Trafford, bukan tidak mungkin Arsenal bisa merangsek ke posisi 3 klasemen.

Dari 11 laga, Arsenal berhasil memenangi 8 dintaranya. Di lain hal, Queen Park Rangers yang resmi ditendang ke divisi championship untuk musim depan. Dari 11 laga, The Hoops hanya menang 2 kali, seri 3 kali dan kalah 6 kali. Bukan tidak mungkin Arsenal bisa mendapatkan 3 poin dengan mudah.

The Hoops resmi terdegradasi setelah hasil 0-0 yang membosankan kontra Reading di Madjeski Stadium. Harry Redknapp dinilai gagal memperbaiki penampilan QPR sejak penunjukannya pada November silam. Mantan Manajer Sp*rs tersebut sudah pasti akan memotivasi skuadnya untuk memperbaiki penampilan-penampilan buruk sebelumnya malam nanti.

Kehilangan 3 laga karna kartu merahnya, membuat Olivier Giroud tidak bisa memberikan service nya malam nanti. Lukas Podolski ditunjuk sebagai striker tunggal nanti malam, berharap bisa memberikan sesuatu yang berbeda.

Lalu, Lukas Fabianski yang mengalami cedera tulang rusuk dan Aboud Diaby yang harus absen 9 bulan karna cedera ligamen nya tidak akan dipasang oleh Le Professeur. Jack Wilshere kembali setelah duduk manis dibangku cadangan pekan lalu. Ia tidak terlihat fit 100% tapi Jack akan kembali ke pitch dan siap untuk memulai. Carl Jenkinson siap unjuk gigi malam nanti setelah melihat mimpi buruk dari Bacary Sagna pekan lalu. Jenkinson layak mendapatkan posisinya.

The Hoops menyambut kembali Bobby Zamora setelah menjalani sanksi larangan 3 pertandingan. Pemain pinjaman dari Sp*rs, Andros Townsend tengah mengalami cedera harmstring. Disusul Christoper Samba yang mungkin akan absen karna masalah pada lututnya. Shaun Wright-Phillips dan Andres Johnson, yang masing-masing menderita cedera pergelangan kaki dan lutut, akan melewatkan sisa musim ini.

Prediksi Line-up:

Queens Park Rangers: Green; Onuoha, Hill, Fabio, Traore; Granero, Jenas, M’bia, Taarabt; Remy, Zamora.

Arsenal: Szczesny; Jenkinson, Mertesacker, Koscielny, Monreal, Arteta, Ramsey, Cazorla, Walcott. Podolski.

Prediksi Skor:

Anehnya, meskipun Arsenal tidak pernah menang di Loftus Road di era Premier League tapi dengan Rangers memiliki tingkat mencetak gol  terburuk di kandang musim ini, di kombinasikan dengan Arsenal meiliki rekor tandang yang yang baik. QPR 0-3 Arsenal

Jumat, 03 Mei 2013

Mengajari Arsenal

2006, ditandai dimulainya masa transisi bagi Arsenal. Mereka hijrah ke stadium baru, menuju ke peradaban baru, masa depan yang cerah di Emirates Stadium. Tidak lupa menjual sejumlah pemain kunci, termasuk Ashley Cole, Sol Campbell, Lauren, Fredrik Ljungberg, dan yang paling pentingpencetak gol terbanyak sepanjang masa,Thierry Henry. Kontradiktif. 

Periode kegelapan ini dimulai saat Arsenal begitu antusias menggunakan para pemain muda dan berbakat untuk mengisi kekosongan posisi. Namun hasil akhir yang diperoleh berbanding terbalik dengan ekspektasi supporter. Arsenal hanya menduduki peringkat 4. Tidak berakhir disini, Arsene Wenger tetap bersikukuh menggunakan 'bayi-bayi' mungilnya di musim selanjutnya. hingga mencapai klimaksnya. 8 tahun tanpa gelar.

Musim 2007 hingga 2010, Arsenal dianggap sebagai tim paling menarik di bumi ini, dengan Cesc Fabregas sebagai kapten, mereka menjadi terkenal karena sepakbola indah mereka. Namun, Kecantikan tanpa kerja keras yang menyebabkan Arsenal gagal untuk tetap kompetitif di setiap musim. Hasilnya, mereka berhasil mengecewakan supporter mereka yang rela mengeluarkan uang hingga 126 Pounds untuk menyaksikan pasukan Arsene Wenger dengan ditemani kemewahan. Belum lagi dengan tiket terusan 1 musim Arsenal seharga 1955 Pounds atau sekitar 30 Juta Rupiah. yes, you can buy 1 or more motorcycle with that. Arsenal pun tak mau kalah dengan supporternya, mereka membalasnya dengan kehilangan trofi demi trofi tiap musim.

Maju ke beberapa tahun berikutnya, terdapat sebuah klub yang bisa dikatakan semenjana bernama Borussia Dortmund. Juara Bundes Liga selama 2 tahun berturut-turut. Namun, tahun ini tahta mereka berhasil di akuisisi oleh monster lainnya, Bayern Munchen.

Terlahir dengan kondisi finansial yang buruk dan diambang kebangkrutan tidak membuat Dortmund putus asa. Semua berubah di musim 2008. Saat Dortmund mempunyai ayah baru, Jurgen Klopp. Lelaki berambut blonde bak bintang porno brazzers, berkaca mata dengan wajah dipenuhi jenggot khas Eropa. tampak seperti orang bloon. Pria kelahiran Stuttgart ini merubah Borussia Dortmund dari sebuah klub semenjana menjadi klub yang ditakuti di eropa.


Tapi, Borussia Dortmund dengan pemain mudanya, sama seperti Arsenal. Tapi, mereka mampu mengubah keraguan semua orang. Mereka mampu melewati stage demi stage liga champions hingga akhirnya mencapai puncaknya, Boss Fight. Bayern Munchen. Di kubu lain, Arsenal harus terhenti langkahnya oleh Munchen di babak penyisihan.

Di lain hal, Dortmund telah memenangkan banyak gelar dalam 1 dekade dengan sepakbola indah mereka dan juga pemain muda, sebut saja Mario Gotze, Marco Reus hingga Mats Hummel. hal yang sama terjadi kepada Arsenal, sayang begitu banyak faktor yang menjadi batu sandungan menyebabkan kosongnya lemari trofi Arsenal selama 8 tahun.

Jurgen Klopp telah melakukan apa yang Arsene Wenger tidak bisa lakukan dengan pemain muda. Secara tidak langsung Klopp mengajarkan Arsene Wenger bagaimana membuat sebuah klub berisi 'bayi-bayi' mungil menjadi monster di Eropa. Dia jelas menunjukan bahwa ia adalah salah satu Manajer terbaik di dunia saat ini. yes, Borussia Dortmund shows Arsenal how to win with kids.

Selasa, 30 April 2013

Bersyukur Akan Sepakbola

Sebuah bola sepak yang hanya berdiameter sekitar 68 – 70 cm ternyata memiliki sebuah pengaruh yang teramat luar biasa bagi kehidupan umat manusia di seluruh penjuru dunia. Melihat anak-anak berlari, berkeringat, saling kejar mengejar tanpa lelah hanya untuk merebut dan menceploskan sebuah bola ke dalam gawang merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri untuk saya.

Andaikan permainan sepakbola tidak pernah ditemukan, saya tidak akan bisa membayangkan masa depan yang lebih indah daripada hari ini. Seonggok bola ini merubah begitu banyak jalan kehidupan kita. Ya, kita, termasuk saya, seorang pemuda gila bola yang mendapatkan begitu banyak pelajaran akan kehidupan ini melalui olahraga paling terkemuka di dunia.

Tentu olahraga sepakbola mengubah nasib para atlitnya yang digaji tinggi setiap pekan. Pemain semacam David Beckham dan Cristiano Ronaldo mungkin tidak akan menjadi kaya raya dan dikenal publik dunia jika bukan karena kemahiran mereka dalam mengolah si kulit bundar. Tanpa sepakbola, mungkin mereka akan lebih dikenal sebagai seorang selebriti ataupun model iklan celana dalam yang digilai para wanita.

  

Tanpa sepakbola, mungkin kita tidak akan pernah melihat sosok jenius seorang Lionel Messi seperti hari ini. Mungkin dia akan tetap menjadi anak pesakitan yang kurang gizi di pelosok Argentina. Tidak akan ada decak kagum terpancar di wajah kita saat melihat aksi ‘Sang Messias” mengobrak abrik lini pertahanan lawan.

Tanpa sepakbola, mungkin Ricardo Kaka tidak akan pernah mengucap syukur sambil menengadah dan mengacungkan jarinya ke langit setelah setiap saat ia mencetak gol. Mungkin ia tetap akan melakukan hal yang sama, tetapi tidak dalam soal mencetak gol. Mungkin Kaka hanya akan menjadi seorang pegawai negeri yang terkenal santun dan tampan. Karena sepakbola, Kaka pun diutus untuk jadi salah satu yang terbaik dalam sepakbola. Bahkan kecelakaan saat Kaka terjatuh ke dalam sebuah kolam renang kosong yang hampir merenggut karirnya pun tidak dapat menghalangi takdirnya tersebut.

Tanpa sepakbola, mungkin Negara Jepang dan Korea Selatan tidak akan dikenal dunia sebagai salah satu negara termaju di Asia. Afrika Selatan pun mungkin tidak akan terkenal seperti saat mereka menghelat pegelaran Piala Dunia 2010 silam. Terima kasih juga kepada single hits “Waka-waka” dan Syakira tentunya.

Tanpa sepakbola, mungkin Darius dan Donna Agnesia tidak akan pergi ke Barcelona untuk bertemu dengan para pemain Barcelona dan mendatangi stadion Nou Camp. Mungkin mereka akan pergi ke sana untuk mengunjungi gereja gereja tua di sana. Bahkan, mereka mungkin tidak akan berjodoh tanpa sepakbola.


Tanpa sepakbola, mungkin Martunis si bocah dari Aceh tidak akan pernah berkunjung ke Portugal seumur hidupnya. Bukanlah pula sehelai jersey timnas Portugal yang ia kenakan saat musibah Tsunami menghantam Aceh 2004 silam.

Tanpa sepakbola, tidak akan ada mimpi setinggi langit para anak muda di seluruh dunia. Tidak ada Ozora Tsubasa, Taro Misaki, Genzo Wakabayashi, Teppei Sakamoto, Kazuya Takasugi, dan Sho kasamatsuri yang membawa Jepang ke pentas sepakbola dunia. Tentunya di dalam balutan anime atau Manga.

Walaupun negaraku tercinta Indonesia memiliki segunung masalah dalam hal persepakbolaan nya, tetapi hal apalagi yang dapat mempersatukan bangsa dan negara dengan mudah jika bukan olahraga ini? Bahkan lagu “Indonesia Raya” yang dikumandangkan setiap saat sebelum pertandingan International dapat mempersatukan bangsa ini meski permainan timnas tidaklah selalu sesuai harapan.

Bayangkan saja jika Indonesia dapat menjuarai piala Asia atau lolos masuk ke babak Piala dunia suatu hari nanti? Tanpa ragu saya rela untuk memeluk bahkan mencium siapa saja yang ada di hadapan saya walaupun ia adalah orang asing. Tetesan air mata bahagia akan membanjiri negeri kita tercinta ini atas tercapainya mimpi kami para anak bangsa untuk menyaksikan “Sang Garuda” terbang tinggi menggapai dunia.

Tanpa sepakbola, tidak akan ada pembelajaran bagi kita di setiap malam minggu khususnya para pecinta sepakbola Eropa. Belajar untuk menerima kekalahan, belajar untuk tidak sombong dan banyak bicara saat tim kesayangan kita menang. Memang terdengar konyol karena siapa lah kita dimata para pemain dari tim yang kita dukung. Kenal pun tidak kenapa kita sampai begitu emosional saat melihat tim kesayangan kita bertanding? Tangis dan luapan emosi bisa meledak saat tim favorit kita menang atau kalah. Tapi itulah sensasi dan pembelajaran yang bisa kita ambil. Belajar untuk sabar, setia dalam proses, dan tentu belajar tentang hal yang bernama  kesetiaan dan juga roda kehidupan yang selalu berputar.

Bersahabat puluhan tahun dengan kawan kita masing masing yang menjadi seperti saudara di saat bermain bersama, tetapi bagaikan anjing dan kucing sesaat setelah peluit pertandingan babak pertama ditiupkan karena mengidolakan tim yang berbeda. Saling berargumen dan membela tim satu sama lain, tetapi tetap memegang teguh panji persahabatan yang sudah terikat semenjak dini. Tetap bersatu saat mendukung timnas Garuda berlaga di lapangan hijau.

Begitu banyak konflik, perbedaan, dan pembelaan. Tetapi tanpa sepakbola, saya pribadi pun tidak akan pernah memiliki banyak sekali sahabat seperti saat ini. Pertemuan dengan para sahabat di lapangan hijau sepakbola dan futsal juga lah yang membentuk saya sebagai seorang pribadi seperti hari ini. Bahkan, tanpa sepakbola, artikel ini tidak akan pernah eksis di hadapan kita semua.


Bersyukurlah kita karena sepakbola. Sepakbola yang mengajarkan kita banyak arti kehidupan dan proses pembelajaran. Sepakbola yang mempersatukan dan sepakbola yang memberikan kebahagiaan bagi siapapun yang menikmatinya.

Minggu, 21 April 2013

Kenyataan Pahit

Sisa 5 laga, selisih 13 poin. Berakhir sudah title race Barclays Premier League season 12/13. Berdasarkan perhitungan matematis, Manchester City sudah tidak mungkin bisa mengejar ketertinggalan 13 poin dari Manchester United. It's mean, United akan pasti merayakan gelar ke-20 nya di musim ini tanpa diusik oleh their noisy neighbor, Manchester City.



Jika kita bandingkan perjalanan Manchester City musim ini dengan musim lalu, dimana akhir perebutan titel premier league begitu dramatis. Berbanding terbalik dengan tahun ini. ada sesuatu yang anomali di Manchester City musim ini. Bomber mereka hilang baik ditelan bumi. Kita lihat Aguero dan Dzeko musim lalu ? mereka kesetanan, haus akan gol. Setiap pemain bertahan yang mendengar nama mereka, mungkin akan berteriak dalam hati. Hiperbola ? tidak, itu fakta. Tapi musim ini they were like shit. Bahkan Torres masih lebih baik daripada Aguero dan Dzeko di musim ini. No hard feeling Citizen.

Berterimakasih lah kalian wahai suporter United kepada Sp*rs. Karna berkat 'ayam' london utara tersebut tim kalian (akhirnya) berhasil mencapai orgasme, yaitu gelar yang ke-20. Sebutan kerennya #CHAMP20NS atau T20PHY. Typical.

Bagaimana dengan Arsenal ? menjadi 'Guard of honour' memang menyakitkan bagi suporter manapun. Jika anda tidak tahu 'Guard of honour' anda bisa bayangkan seisi Emirates stadium memberikan tepuk tangan sambil berdiri atau bahasa kerennya standing ovation kepada United yang notabenenya adalah rival utama Arsenal, setidaknya 1 dekade silam. Vermaelen cs harus menanggung malu memberikan tepuk tangan kepada Robin Van Persie, cobaan tuhan memang berat.

Lain cerita jika United (sengaja) kalah dalam laga kontra Aston Villa, bukan tidak mungkin United akan mengunci gelar yang ke 20 nya di Emirates stadium. Ironis. Dan gol Nasri tadi tidak berarti apa-apa. 20 kali juara dan 20 nomer punggungnya si Robin Van Persie yang akan tersenyum sinis saat tahu bahwa ia memenangkan titel premier league di Emirates stadium, bukan bersama Arsenal melainkan United.

Lalu, apa yang terjadi jika United mengunci gelar ke-20nya di Emirates ? Mungkin bendera kuning setengah tiang akan dikibarkan selama 1 minggu di Emirates stadium. kesedihan yang sangat mendalam. Pelajaran untuk Arsenal, pemain pergi untuk meraih trophy, sementara Arsenal setiap musim harus berjibaku memperebutkan trophy wenger atau posisi ke-4.

Tapi, hal positif yang bisa Arsenal petik dari kekalahan City tadi adalah dengan hanya selisihnya 5 poin dengan City, Arsenal masih mempunyai kans runner-up Liga. Pertanyaannya, apakah Arsenal dan suporternya akan tetap merayakan hari raya besar Santo Totteringham atau Tottenham cukup kuat menghentikan hari raya besar Santo Totteringham ciptaan kaum kafir Arsenal ?

Dear plastic fans, Sebagai supporter Arsenal yang berbudaya tinggi, saya (terpaksa) mengucapkan selamat kepada Manchester United beserta fans-fansnya yang 'loyal', yang akan mendapatkan gelarnya yang ke-20. Kenyataan memang pahit.

Senin, 15 April 2013

Suporter dan Hak

Selalu menarik bila kita membicarakan tentang sepakbola, banyak hal terkait di dalamnya. Salah satunya adalah suporter. Suporter atau biasa kita sebut dengan sebutan penonton. belakangan ini definisi suporter dibagi menjadi 2 bagian yaitu karbitan dan sejati. Entah siapa yang membuat pembagian tersebut, membuat sepakbola menjadi riweh. Jika kalian orang yang berdomisili di Jawa Barat pasti mengerti kata tersebut.


Karbitan, kata dasar dari karbit senyawa kimia dalam proses las karbit atau pematangan buah secara paksa. Tapi, bukan karbit tersebut yang akan kita bahas. Jika jika kita tarik benang merah kearah cara pandang penggemar sepakbola, terbentuk lah sebuah kata "karbitan". Kata yang tidak asing dimata penggemar sepakbola. 

Suporter karbitan atau supporter asal jadi, pemburu kemenangan  atau dikenal sebagai glory hunter. Jika kita simpulkan. suporter karbitan adalah suporter yang cuma mendukung sebuah tim disaat masa kejayaannya saja.

Suporter karbitan ini bukan selalu berarti buta sepak bola,  tapi yang jelas mereka adalah tipikal yang mau enaknya saja. Suporter karbitan biasanya bersuara lebih keras saat sukses namun paling hening saat gagal lalu membagi cinta yang tidak adil ke klub lain. Sikap suporter karbitan, yang suara koarannya bahkan lebih terdengar kencang ketimbang suporter sejati. Mereka mendadak mendukung saat timnya meraih kemenangan, namun berbalik mencaci-maki dengan sumpah serapah “seribu laknat” jika klub nya tengah terpuruk. Lalu hilang tanpa suara bak ditelan bumi. Sikap suporter karbitan ini lah yang menjadi sasaran dari kutipan ucapan manajer legendaris Liverpol, Bill Shankly. Bahwa “Anda yang tidak mendukung di saat tim tengah terpuruk, maka jangan ikut bergembira bila tim tengah menang”. 

Mereka memilah dan memilih. Mereka mendukung jika skuad tim sesuai dengan harapan mereka, namun akan mereka hujat, mereka campakkan, mereka jauhkan dari dukungan, bila klub yang saat itu mereka dukung kalah.

Berbeda sengan supporter sejati, mereka tidak akan mempersoalkan kalah-menang. Walau saat kalah dibenakanya tersimpan harapan agar klub yang mereka cintai menang. Walaupun kalah dengan skor 100-0 pun niscaya mereka tetap akan mendukung klub tersebut dan kecintaan mereka terhadap klub tidak akan pernah pudar.

Mereka yang menghamburkan uang hanya untuk membeli atribut sebuah klub, baik itu scarf ataupun kostum klub dari zaman kepresidenan Pak Soeharto sampai dengan sekarang, zaman dimana korupsi di Indonesia dilegalkan. Atribut memang diperlukan untuk menunjukan jati diri dari tiap suporter, sehingga kita dapat membedakan mereka dengan suporter yang lain. Tidak salah memang bila kita memakai berbagai macam pernak-pernik atribut. Hanya saja atribut yang dilupakan oleh setiap supporter dan paling penting adalah attitude.

Jika kita kaitkan supporter sejati dengan suatu klub. Supporter Arsenal dan Liverpool lah yang pantas didaulat menjadi supporter sejati. Sebagai suporter yang dipercaya sangat terdidik, bukan glory-hunter, dan berbudaya tinggi, para suporter Arsenal memiliki apa yang disebut dengan mental supporter sejati. Demikian juga Liverpool. Tak peduli bagaimana 2 klub tersebut telah mengecewakan berkali-kali dengan kekalahan dan nir prestasi, tetapi bagi pecinta sejati selalu saja ada alasan untuk mendukung klub itu sendiri. No hard feeling bila klub anda tidak disebutkan diatas.

Memangnya apa sih ukuran kesejatian dari penggemar sebuah klub sepak bola? Banyak sekali yang telah memberikan definisi kesejatian tersebut.

“Suporter sejati itu tetap dukung timnya baik di saat mereka berjaya atau terpuruk. Merasakan keterpurukan adalah ciri kesejatian.” 

“Suporter sejati itu yang beli jersey original klub favoritnya.”  

“Suporter sejati itu yang cuma dukung satu tim aja" 

"Suporter klub sejati itu yang gagah berani berantem sama Suporter klub lain. Bela habis-habisan" 

"Suporter sejati itu yang mengerti sejarah klubnya, hapal chants suporternya, mengenal pemain-pemainnya.”

"Suporterklub sejati itu mendukung klub secara total, dan itu termasuk membenci klub rival.” 

“Percuma banyak ngomongin bola tapi gak pernah mainin olah raganya. Pecinta sepak bola ya hobi main sepak bola.”


Dan masih banyak lagi definisi lainnya mulai dari yang objektif, subjektif hingga provokatif. Dari sekian banyak definisi ukuran kesejatian tersebut. nomor 1 lah yang cocok bila dikaitkan dengan kesejatian menurut cara pandang sepakbola. Anda boleh jadi cocok dengan salah satu atau beberapa statement diatas. Tapi pertanyaannya, seberapa pentingkah pengakuan orang-orang terhadap kesejatian anda ? seberapa pentingkah anda menilai kesejatian orang ? 

Diluar karbitan dan sejati itu sendiri ada sebuah kesanggupan yang dimiliki seseorang. Ya, hak!. Mereka berhak memilih klub apa yang ingin mereka dukung. Setiap individu mempunyai cara mereka tersendiri untuk mendukung sebuah klub. Tidak peduli apakah dia karbitan, glory hunter atau die hard fans. Karna tujuan mereka hanyalah menikmati sepakbola seutuhnya.

Pecinta sepak bola mengamati sepak bola secara keseluruhan. Menikmati banyak pertandingan, tidak memiliki kebencian berlebih terhadap sebuah tim, membaca banyak hal-hal lain yang bersinggungan dengan sepak bola. Memiliki pengetahuan luas bukan hanya terhadap klub favoritnya saja, tapi juga banyak hal lain lebih dari sekadar tahu formasi dan berita teraktual klub. Mendukung sebuah klub namun tidak militan dan tidak marah jika klubnya diledek. Biasa saja. Orang itu tetap merasakan ketar-ketir ketika menyaksikan tim favoritnya bertanding, mereka juga mencela tim rival, namun ya hanya sebatas itu. Just for fun, no hard feelings. End of story.

Entah anda suporter sejati atau suporter karbitan, glory hunter atau anti kemapanan, supporter lawas atau supporter kemaren sore, yang jelas kita sama-sama mencintai sepak bola. 

Minggu, 31 Maret 2013

Captain, Injuries And Number 10, A Letter To Jack Wilshere




Your Honour
Mr. Jack Wilshere

With all respect,

There is a need to clarify before I explain the essence of this letter, let me introduce my self. I’m Muhammad Arhan from Indonesia. You must be know that country, aren’t you ? That country, you and
Arsenal will visit later on July 2013. I really hope you take a part in Arsenal's Asia Tour later.

As an Arsenal supporter, I'm happy to follow your progress until now. If my memory is not wrong, 
i got to know you when you are selected to play in the first team in pre-season action game against Barnet  and i vividly remember one assists you to Jay Simpson. Then your first 2 goals against Burgenland XI in which Arsenal won 10-2 in the game, right ?

September 2008, your first competitive debut in the premier league when playing at Ewood Park against Blackburn Rovers, you subbed Robin Van Persie in the 84th minute. I still remember when you scored your first goal as Arsenal threw Sheffield United 6-0 in the Carling Cup event. I bet it’s the greatest moment for you at that time.
Since that time, As time goes on, I continue to follow your progress, find out the ins and outs of your resume in the past. I'm very bloody happy if you linked to Liam Brady or Dennis 'The Non Flying Dutchman' Bergkamp or even Tony Adams. But Jack Wilshere still Jack Wilshere. no one should compare you to another player. I’m proud of Jack Wilshere whoever he was.

Mr. Jack Wilshere. you may know or even get closed  to Tony Adams? 21 years and captain armband was circling on his arm. I sure one of the reasons for Monsieur Arsene Wenger to made him as a captain at such a young age was because of his leadership. he did not afraid to criticize his mates if they made a mistake. The same thing I found on you, Mr. Jack Wilshere. Despite only 21 years old, you did not afraid to criticize players from other clubs for defending his team. I remembered your tweet when you mad at Barry Ferguson after the Carling Cup final 2 years ago.

Jack, you may still remembered the moment when you fight with Michael Owen because he hit Arteta, eh ?. What a heroic action when you look challenging Michael Owen. And when you fought Jonas Olssen, which way bloody bigger than you, I don’t know where the hell you get your guts from. But I always proud of what you do to Arsenal.

I don't need to ask your loyalty to Arsenal. You've said you don’t need an agent because you will never leave Arsenal, rite ? I always hope you kept that promise, Sir. You also said your heart belongs to only one team, It’s Arsenal. If  all players were like you, there will be no players coming and walked away from Arsenal. But players come and go, passions are forever.

Your Honour, Mr. Jack Wilshere. 2010-2011 season, when Arsenal faced FC Barcelona in the UEFA Champions League event at Ashburton Grove, you played so awesome. Against players rich of experiences like Andres Iniesta and Xavi Hernandez, you’re able to created a successful passes 93.5% and 91% successful passes on the final third of the pitch. And in this season of your caps by winning the PFA Young Player of the Year, get in into the PFA Team of the Year, and won Arsenal's Player of the Season.

Maybe 2011-2012 season was bleedin’ bad for you, the ankle injury that forced you to end the season without a single call-up makes me sad because player that i admire not on the pitch. Despite, I’m sure you will return and stand up for Arsenal again.

There's something you should know. in Indonesia, You were the next “Mr . Arsenal". Too early ? Absolutely, not!
I have many reasons why you deserve as Arsenal captain. One of them is your leadership in the pitch, like King Leonidas in the film 300. Even if I had close relations with Monsieur Arsene Wenger, I would advise him to make you as a captain.

After the departure of Robin Van Persie at the start of the season, number 10  bacame yours. You look so awesome on it. Reminds me of Dennis Bergkamp, but allow me to ask, If you later appointed as Arsenal captain and Arsenal still got no any trophies, will you promise to me and fellows Gooner in the world will not gonna be like Robin Van Persie or Cesc Fabregas? But, it’s your right. I can’t intervene in your choice. I don’t blame if the players wanted to leave because he wanted to get the title or because lack of trophy. It's a natural thing if the man is never satisfied and always want to achieve success. But, I really expect you stay in Arsenal.

As an Arsenal supporter I feel how bitter a supporter who always insulted because Arsenal never get the trophy for this decade. Mr. Jack, you know what the nickname Arsenal in Indonesia? "8 Years Trophyless FC". But for me trophy is a bonus for watching football. I was quite happy to watch Arsenal though only from the telly. Shout bloody loud chants "We Love You Arsenal, We Do" or "Arsenal Till I die" it’s became my own pleasure. or chants "There's only one Jackie Wilshere, One Jackie Wilshere". I was very excited when it shouted.

Without Arsenal there would be no learning for me. Every satnite, learn to accept defeat, to learn to not arrogant and talk a lot when Arsenal won,  Maybe it sounds ridicolous because who the fuck I’am in the eyes of  Arsenal player ? I don’t even know why the bloody hell I get so emotional when I watching Arsenal play? Tears and emotional outbursts could explode when Arsenal win or lose. But that sensation and lessons we can take. Learning to be patience, faithful in the process, and of course learning about something call loyalty

Of course, You cried when Arsenal lost to Birmingham in the Carling Cup final event two years ago, rite'? Then you also cried when Arsenal were defeated 3-1 by Muenchen at Ashburton Grove, isn’t it ? I also felt that, Jack. Nevertheless I am not ashamed to cried in front of people for the sake of Arsenal. Ah, forget the past. And i also cried when you cried after Arsenal lost to birmingham in Carling Cup final two years ago. really painful moments.

Oh yeah, how's your son, Archie Wilshere? I hope he always healthy. He always looks cute especially when wearing an Arsenal kit. I am sure he will be a great footballer like his father and playing for Arsenal later, Indeed.

I want to speak directly to you, whether talking about football or politics between English-Indonesian which even I don’t give a damn or maybe about cooking? I guess you must be an expert in cooking, Jack? if my guess was wrong, maybe you can try my homemade fried rice, it taste good. Sounds interesting to talk to you, while enjoying a cup of tea in the autumn. Ah, I just remembered that Indonesia does not have autumn season. But, well England-Indonesia is too far away.  And I'm just one of the many millions of supporters arsenal, too difficult to speak directly to you, Professional Athletes who have 2 million followers on the social networking accounts, Twitter. I gotta finish my education until i meet you one day later.

Almost forgot, me and whole Arsenal supporters miss winning another trophy for us, for our Arsenal. I miss seeing the smile off Arsenal players and Monsieur Arsene while lifting the trophy with pride.
Ah, actually I do wanna talk much with you. But, I’m afraid you get bloody bored when you reading my letter because it’s too long. See ya in Indonesia at Arsenal Tour 2013. I wanna meet you and take a picture with my favorite player, Jack Wilshere.

I’m gonna close this letter with a sense of pride, pride of watching you, despite on telly. Pride of making you my idol and pride of being a Gooners. May success always be on you, Jack!

Your Truly, 

Muhammad Arhan, Indonesian Gooners

Pages