Andaikan permainan sepakbola tidak pernah ditemukan, saya tidak akan bisa membayangkan masa depan yang lebih indah daripada hari ini. Seonggok bola ini merubah begitu banyak jalan kehidupan kita. Ya, kita, termasuk saya, seorang pemuda gila bola yang mendapatkan begitu banyak pelajaran akan kehidupan ini melalui olahraga paling terkemuka di dunia.
Tentu olahraga sepakbola mengubah nasib para atlitnya yang digaji tinggi setiap pekan. Pemain semacam David Beckham dan Cristiano Ronaldo mungkin tidak akan menjadi kaya raya dan dikenal publik dunia jika bukan karena kemahiran mereka dalam mengolah si kulit bundar. Tanpa sepakbola, mungkin mereka akan lebih dikenal sebagai seorang selebriti ataupun model iklan celana dalam yang digilai para wanita.
Tanpa sepakbola, mungkin Ricardo Kaka tidak akan pernah mengucap syukur sambil menengadah dan mengacungkan jarinya ke langit setelah setiap saat ia mencetak gol. Mungkin ia tetap akan melakukan hal yang sama, tetapi tidak dalam soal mencetak gol. Mungkin Kaka hanya akan menjadi seorang pegawai negeri yang terkenal santun dan tampan. Karena sepakbola, Kaka pun diutus untuk jadi salah satu yang terbaik dalam sepakbola. Bahkan kecelakaan saat Kaka terjatuh ke dalam sebuah kolam renang kosong yang hampir merenggut karirnya pun tidak dapat menghalangi takdirnya tersebut.
Tanpa sepakbola, mungkin Negara Jepang dan Korea Selatan tidak akan dikenal dunia sebagai salah satu negara termaju di Asia. Afrika Selatan pun mungkin tidak akan terkenal seperti saat mereka menghelat pegelaran Piala Dunia 2010 silam. Terima kasih juga kepada single hits “Waka-waka” dan Syakira tentunya.
Tanpa sepakbola, mungkin Darius dan Donna Agnesia tidak akan pergi ke Barcelona untuk bertemu dengan para pemain Barcelona dan mendatangi stadion Nou Camp. Mungkin mereka akan pergi ke sana untuk mengunjungi gereja gereja tua di sana. Bahkan, mereka mungkin tidak akan berjodoh tanpa sepakbola.
Tanpa sepakbola, mungkin Martunis si bocah dari Aceh tidak akan pernah berkunjung ke Portugal seumur hidupnya. Bukanlah pula sehelai jersey timnas Portugal yang ia kenakan saat musibah Tsunami menghantam Aceh 2004 silam.
Tanpa sepakbola, tidak akan ada mimpi setinggi langit para anak muda di seluruh dunia. Tidak ada Ozora Tsubasa, Taro Misaki, Genzo Wakabayashi, Teppei Sakamoto, Kazuya Takasugi, dan Sho kasamatsuri yang membawa Jepang ke pentas sepakbola dunia. Tentunya di dalam balutan anime atau Manga.
Walaupun negaraku tercinta Indonesia memiliki segunung masalah dalam hal persepakbolaan nya, tetapi hal apalagi yang dapat mempersatukan bangsa dan negara dengan mudah jika bukan olahraga ini? Bahkan lagu “Indonesia Raya” yang dikumandangkan setiap saat sebelum pertandingan International dapat mempersatukan bangsa ini meski permainan timnas tidaklah selalu sesuai harapan.
Bayangkan saja jika Indonesia dapat menjuarai piala Asia atau lolos masuk ke babak Piala dunia suatu hari nanti? Tanpa ragu saya rela untuk memeluk bahkan mencium siapa saja yang ada di hadapan saya walaupun ia adalah orang asing. Tetesan air mata bahagia akan membanjiri negeri kita tercinta ini atas tercapainya mimpi kami para anak bangsa untuk menyaksikan “Sang Garuda” terbang tinggi menggapai dunia.
Tanpa sepakbola, tidak akan ada pembelajaran bagi kita di setiap malam minggu khususnya para pecinta sepakbola Eropa. Belajar untuk menerima kekalahan, belajar untuk tidak sombong dan banyak bicara saat tim kesayangan kita menang. Memang terdengar konyol karena siapa lah kita dimata para pemain dari tim yang kita dukung. Kenal pun tidak kenapa kita sampai begitu emosional saat melihat tim kesayangan kita bertanding? Tangis dan luapan emosi bisa meledak saat tim favorit kita menang atau kalah. Tapi itulah sensasi dan pembelajaran yang bisa kita ambil. Belajar untuk sabar, setia dalam proses, dan tentu belajar tentang hal yang bernama kesetiaan dan juga roda kehidupan yang selalu berputar.
Bersahabat puluhan tahun dengan kawan kita masing masing yang menjadi seperti saudara di saat bermain bersama, tetapi bagaikan anjing dan kucing sesaat setelah peluit pertandingan babak pertama ditiupkan karena mengidolakan tim yang berbeda. Saling berargumen dan membela tim satu sama lain, tetapi tetap memegang teguh panji persahabatan yang sudah terikat semenjak dini. Tetap bersatu saat mendukung timnas Garuda berlaga di lapangan hijau.
Begitu banyak konflik, perbedaan, dan pembelaan. Tetapi tanpa sepakbola, saya pribadi pun tidak akan pernah memiliki banyak sekali sahabat seperti saat ini. Pertemuan dengan para sahabat di lapangan hijau sepakbola dan futsal juga lah yang membentuk saya sebagai seorang pribadi seperti hari ini. Bahkan, tanpa sepakbola, artikel ini tidak akan pernah eksis di hadapan kita semua.
Bersyukurlah kita karena sepakbola. Sepakbola yang mengajarkan kita banyak arti kehidupan dan proses pembelajaran. Sepakbola yang mempersatukan dan sepakbola yang memberikan kebahagiaan bagi siapapun yang menikmatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar