Minggu, 27 Juli 2014

Memprediksi Premier League 2014/2015


21 hari menjelang digelarnya kembali English Premier League. Tentu ini merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh banyak pria single diluar sana agar akhir pekan mereka tidak terlalu buruk-buruk amat.

Melihat eksodus pemain besar-besaran yang dilakukan klub-klub EPL tentu membuat saya tergelitik untuk membuat beberapa prediksi dan analisis untuk Premier League musim 2014/2015

Saya bukan Paul Gurita yang memprediksi kemenangan Spanyol atas Belanda di Johanessburg 2010 silam, jikapun saya Paul Gurita, saya sudah menjadi takoyaki yang dijual di Jepang alih-alih memprediksi Premier League.

Bagi yang hobi taruhan, anda boleh saja menggunakan prediksi saya sebagai acuan. Dengan satu syarat; siapkan nama baru dan nomer handphone baru untuk berjaga-jaga  jika terjadi sesuatu. Sahih tidaknya prediksi saya bisa kalian simpulkan di akhir musim.

Arsenal

Setelah hutang-hutang stadion lunas. Arsenal mencoba merubah citra nya, dari klub penjual menjadi klub pembeli. Kedatangan Mathieu Debuchy dan Alexis Sanchez akan menambah kedalaman skuad. 

Untuk musim ini, Arsenal (cukup) beruntung tidak ditinggalkan oleh pemain-pemain utamanya seperti 2-3 musim lalu. Jika Monsieur Wenger bisa menambah 1 DMF untuk pelapis Arteta, 1 CB untuk pelapis Mertesacker dan Koscielny, 1 GK sebagai pengganti Fabianski dan 1 CF agar Giroud tidak malas didepan gawang. Bukan tidak mungkin Arsenal menjadi kandidat juara. Dengan catatan, Arsenal menghilangkan hobi nya tiap musim, badai cedera pemain. Oiya fans Arsenal, hanya sekedar mengingatkan bahwa Drogba kembali menjadi pemain Chelsea.

Prediksi: Jika tidak juara, ya 4 besar

Chelsea

Sebenarnya Chelsea merupakan klub yang paling berpeluang menjuarai Premier League musim depan. Tidak, saya tidak di sogok oleh fans Chelsea demi tulisan ini. Melihat materi pemain Chelsea baik  utama maupun cadangan memiliki kualitas yang tidak berbeda jauh. Ditambah dengan kedatangan Fabregas, Costa dan Felipe Luis yang memberikan wajah baru bagi Chelsea. Tapi menilik bahwa pelatih Chelsea ialah Jose Mourinho menyimpulkan bahwa specialist in failure tidak akan juara. 

Prediksi: Diatas Liverpool. Bersaing posisi 1 dengan Arsenal. 

Manchester City

Dengan skuad yang hampir sama dengan musim lalu. Manchester City layak menjadi kandidat juara, kecuali mereka cukup puas dengan 4 gelar EPL.

Prediksi: Juara, minimal 4 besar

Liverpool

Ditinggal Luis Suarez. Menggantinya dengan Ricky Lambert. Membeli playmaker rupawan seharga 25 juta yang tampaknya lebih cocok menjadi personil Five Second Of Summer. bernama Adam Lallana. Diduga dia merupakan saudara jauh Adam Levine. This year will be their year kalo kata 'mereka'.

Prediksi: Juara? Jangan bercanda! Tapi setidaknya fans wanita Liverpool meningkat karena kedatangan Adam Lallana.

Tottenham

Happy St.Totteringham Day

Prediksi: 3 hal yang pasti di dunia ini; Kematian, Pajak dan Tottenham dibawah posisi Arsenal

Topskor: Olivier Giroud. Saya bercanda. Kun Aguero atau Didier Drogba

Manajer Terbaik: Van Gaal, tapi saya lupa dia manajer di klub apa.

Assist Terbanyak: Mesut Ozil, Yaya Toure atau Eden Hazard. 

Pemain Terbaik: Aaron Ramsey. Melihat kualitas permainannya di musim lalu, menjadi tolak ukur kenapa saya menulis nama dia di daftar pemain terbaik.

Tukang Sandung: Newcastle dan Everton.

Cukup sekian prediksi saya, tapi tunggu! Manchester United ? Saya hampir lupa menuliskan tim ini. Maklum, saya tidak melihat mereka di 4 besar klasemen akhir musim lalu.

Manchester United

Ruud Van Gaal, 3-5-2, Van Persie kapten. Calon juara.

Prediksi: Juara. Intesitas permainan mereka lebih sedikit dibandingkan klub besar lainnya. Mereka hanya menyaksikan Champions League dari layar kaca sementara klub lain sedang berlaga.


)* disclaimer: tulisan ini dibuat saat penulis sedang nge-gele dan masrum. Tidak diperkenankan mempercayai tulisan ini, kecuali anda seorang musyrik.

)* disclaimer: disclaimer sebelumnya ngaco. Jangan dipercaya.

Minggu, 06 Juli 2014

Kosta Rika, Sebuah Dongeng dari Amerika Tengah untuk Piala Dunia


Tidak ada yang bisa di bahas dibawah kolong langit setelah hingar bingar aktivitas capres dan cawapres usai. Namun, Piala Dunia 2014 menyuguhkan sebuah kisah yang menarik. Bukan, bukan tentang Inggris yang tidak lolos fase grup, Itu sudah biasa. Bukan juga tentang Luis Suarez yang menggigit Giorgio Chiellini. Ayolah, kita semua tahu menggigit merupakan hobi Suarez.

Dongeng tentang sekelompok figuran yang berhasil menjadi tokoh utama dalam semesta Piala Dunia 2014.

Dongeng tentang sebuah negara yang luasnya tidak lebih besar dari Indonesia. Sebuah negara yang penduduknya tidak lebih banyak dari Jakarta yang mampu menarik simpati masyarakat dunia, yaitu Kosta Rika

Dalam prolog, Kosta Rika memulai ceritanya dari Grup B putaran tiga zona Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia (Concacaf). Satu grup dengan Meksiko, El Salvador, dan Guyana, masuk putaran keempat sebagai runner-up dengan nilai sepuluh atau kalah delapan angka dari Meksiko.

Di putaran terakhir, Kosta Rika bergabung bersama Amerika Serikat, Honduras, Meksiko, Panama, dan Jamaica. Mereka sukses menyelesaikan babak ini juga sebagai runner-up dengan nilai 18. 

Dengan juru selamat yang baru, Jorge Luis Pinto. Los Ticos berhasil lolos ke piala dunia. 

Sama seperti figuran lainnya, tidak ada yang memperhitungkan Kosta Rika. Kosta Rika dipertemukan 2 tokoh utama dan 1 tokoh yang sangat menginginkan sekali menjadi tokoh utama. Uruguay, Italia dan Inggris dalam grup (yang katanya) neraka di grup D

Dalam bab pertama, Kosta Rika harus bertemu dengan juara Piala Dunia 2 kali, Uruguay. Namun diluar logika, Kosta Rika mampu mematahkan gigi Luis Suarez dan mengalahkan Uruguay 3-1. 

Kosta Rika menjadi pemuncak klasemen untuk sementara. Bagaimana dengan Inggris? Kita semua tahu dan bisa menyimpulkannya tanpa harus menonton.

Penulis sepertinya melihat talenta tokoh utama dalam diri Kosta Rika. Sehingga penulis mencoba menggunakan twist sequence dan cliff hanger dengan membuat Kosta Rika mengalahkan Uruguay guna membuat khalayak penasaran.

Masih dalam bab yang sama, Kosta Rika harus mengalahkan Italia untuk bisa melanjutkan dongeng impian tersebut. Datang dengan predikat gladiator amatir tidak membuat gentar Kosta Rika. Di depan nya berdiri gladiator militan bernama Italia yang mempunyai perisai terkenal benama Catenaccio. Namun dengan determinasi yang luar biasa, Kosta Rika mampu menghancurkan perisai Italia dan berhasil menghunuskan pedang bernama Bryan Ruiz ke jantung Italia. Italia tewas seketika.

Dongeng berlanjut, Kosta Rika dipertemukan dengan tim yang sengak nya luar biasa yang berhasil menjuarai Piala Dunia di tahun 1966 kala televisi masih hitam-putih. Biasa disebut Overratengland.

Datang dengan berbesar hati, Kosta Rika mampu menahan imbang Inggris yang sarat akan pemain-pemain kelas dunia yang bergaji tinggi. Bahkan ada seorang tokoh utama film Shrek bergaji 300 ribu Poundsterling per pekan.

Pertandingan berakhir. Kosta Rika tersenyum, Inggris juga ikut tersenyum, namun kecut karena harus pulang lebih awal dari Brazil.

Kosta Rika berhasil menutup fase grup sebagai juara grup dengan 7 poin diikuti Uruguay dengan 6 poin. Grup D memang neraka. Neraka bagi Italia dan Inggris. Arrivederci, Italia. Farewell, England.

Memasuki fase konflik. Dongeng Kosta Rika berlanjut ke babak 16 besar. Dipertemukan dengan Yunani, Negeri 1000 dewa & dewi. Dari Dewa 19 sampai Dewi Fortuna berdoa untuk kemenangan Yunani. 

Berkat kegemilangan Keylor Navas dibawah gawang, Kosta Rika mampu mengalahkan Yunani melalui adu tendangan penalti. Selidik punya selidik, Ternyata Dewi Fortuna diselingkuhi oleh Dewa Zeus sehingga Dewi Fortuna memilih untuk mendoakan Kosta Rika.

Elektabilitas Kosta Rika pun menanjak melewati elektabilitas Jokowi dan Prabowo paska mengalahkan Yunani, namun Kosta Rika tetap rendah hati. Karena dia sadar, dia hanyalah negara kecil dengan jumlah ±5 juta penduduk. Masih banyak negara lain yang pantas lolos Piala Dunia. Misalkan, Indonesia.

Los Ticos lolos ke quarter final dan berjumpa dengan Belanda. Secara intuitif, banyak diantara kita menginginkan Kosta Rika lolos ke semifinal, namun secara konatif tidak dapat dipungkiri Belanda pasti menang.

Pertandingan berjalan alot. Seperti biasa Keylor Navas bermain gemilang dibawah mistar gawang. Sepertinya Keylor Navas adalah Tuhan yang sedang menyamar. Robben masih berusaha untuk mendapatkan penalti dengan cara dia sendiri. Daley Blind tampil impresif dalam urusan mempenetrasi flank lawan. 70 menit pertandingan Belanda menguasai pertandingan. 

Begitu banyak peluang emas yang harusnya bisa dikonversikan menjadi sebuah gol. Praktis Kosta Rika hanya bertahan dan memanfaatkan serangan balik. Laga ini berakhir dengan tendangan adu penalti. Belanda menang 5-3 atas Kosta Rika. Ternyata yang menyamar menjadi Keylor Navas bukan tuhan Melainkan Wiranto.

Kosta Rika kalah, namun sudah kepalang tanggung mempunyai tempatnya sendiri di hati khalayak. Kosta Rika sebenarnya pantas lolos ke semifinal. Tapi sayangnya mereka mendapatkan lawan yang lebih pantas lolos.

Ini bukan sekedar dongeng belaka. Ini dongeng tentang perjuangan 11 pemain yang berjuang untuk membanggakan negara nya dimata dunia. Mengalahkan dongeng-dongeng picisan seperti Hercules, Pinokio dan Jack and The Giant Bean. 

Dengan ini berakhir lah dongeng bernama Kosta Rika karya Jose Luis Pinto. Dongeng dari Amerika Tengah untuk Piala Dunia. Diakhiri dengan elegan, sad ending namun happy ending. Bukan tentang kalah atau menang tetapi tentang bagaimana determinasi, passion dan sebuah proses untuk mencapai sebuah tujuan. Kosta Rika mengajarkan kita bagaimana untuk tidak menyerah saat menjalani sesuatu.

Menemukan 11 orang dalam ±5 juta penduduk tentu mudah, namun akan lebih mudah lagi jika menemukan 11 orang dalam ±200 juta penduduk. 

Sepakat?

Senin, 26 Mei 2014

Mengapa Saya menyukai Sepak Bola ?

source: google.com

Beberapa teman wanita sering bertanya mengapa saya begitu memuja olahraga si kulit bundar ini? Satu pertanyaan yang menimbulkan beragam jawaban dari yang objektif, subjektif sampai yang imajinatif. Saya pun mempunyai alasan tersendiri yang mungkin bersifat absurd/abstrak dan aneh untuk kalian pahami. Mungkin kalian akan sedikit mengerti mengapa saya dan orang-orang diluar sana begitu mencintai sepakbola jika kalian menyaksikan laga final Champions League antara Real Madrid kontra Atletico madrid pekan lalu.

Ketidakpastian. Dalam hidup tentu kita mengenal sebuah ketidakpastian, bukan ? ketidakpastian bisa kita jumpai dikehidupan sehari-hari kita. Dalam sepak bola begitu banyak kita temui ketidakpastian tersebut, baik didalam lapangan, maupun diluar lapangan. Tidak usah jauh-jauh, final Champions league pekan lalu mewakili satu dari banyaknya ketidakpastian dalam sepakbola.

Berlaga tanpa Arda Turan dan Diego Costa yang hanya bermain beberapa menit tentu membuat Atletico Madrid ibarat mengkonsumsi magic mushroom tapi tidak mabuk. Paska gol Diego Godin, tempo permainan diambil alih oleh Real Madrid. Atletico Madrid bermain hati-hati. Hanya ada beberapa peluang dari Real Madrid yang mampu membuat fans Atletico Madrid sport jantung. Memasuki menit ke 90, fans Atletico berdoa tiap detik, begitupun petaruh yang menjagokan Atletico. Tidak ada yang menyangka Sergio Ramos mencetak gol dimenit 90+3 ke gawang Atletico Madrid. Drama. Mungkin sepulang laga tersebut Thibaut Curtois akan mendongengkan kisah ini kepada anaknya. Saya yakin pengukir trophy Big Ear sudah mengukir tulisan Atletico Madrid di trophy tersebut sebelum gol Ramos terjadi. Selanjutnya seperti yang bisa kalian tebak, mental Atletico Madrid jatuh ke bumi bersamaan dengan moral Real Madrid yang terbang tinggi ke ionosfer. Hasilnya ? Real Madrid berhasil mendapatkan ladecima nya.

Berbicara ketidakpastian, tentu langsung teringat akan final Champions League 2005 yang mempertemukan AC Milan kontra Liverpool. Liverpool tertinggal 3-0 setelah jeda babak pertama. Entah quote bijak apa yang dipaparkan Rafael Benitez kepada punggawa Liverpool saat diruang ganti. Seperti kita tahu, AC Milan medio 2005 merupakan klub yang paling ditakuti klub-klub eropa, membawa starting line up yang berisi nama-nama besar seperti Shevcenko, Maldini, dan Crespo tentu bukan hal yang mudah bagi Liverpool untuk membalikan keadaan. Tapi, Liverpool melakukannya. Mereka menampar balik AC Milan dan meraih trophy Champions League ke-5 nya melalui adu penalti. Drama. Dalam sepak bola, siapapun bisa menang, siapapun bisa juara. Tidak ada yang bisa menjamin sebuah kemenangan.

Hingar Bingar sepak bola eropa telah usai. Tapi tunggu! antuasiasme saya belum selesai sampai disini. Musim transfer pemain akan segera tiba. Diharapkan kepada seluruh fans mengencangkan sabuknya agar tidak terbawa angin surga, terutama fans Arsenal.

Musim transfer pemain merupakan musim yang ditunggu-tunggu oleh penganut bolaisme. Selama Agustus-September kita akan dijejali dengan yang namanya ketidakpastian. Siapa yang menyangka Arsenal berbesar hati menggelontorkan dana sekitar 42,5 juta Poundsterling untuk seorang Ozil ? Masih ingat saat Manchester City menawar Kaka seharga 100 juta Euro kepada Milan ? Ratusan supporter melakukan ptotes di depan markas Milan. Bahkan, ada yang mendatangi kediaman kaka di kota Milan. Enam bulan kemudian, Kaka hengkang dari San Siro, tapi bukan ke Manchester City, melainkan ke Real Madrid.

Saya teringat akan tendangan bebas Roberto Carlos saat Brasil melakoni laga melawan Perancis di turnamen Piala Konfederasi di lyon 1997 silam. Magnificent. Tendangan tersebut di buatnya dari jarak 30 meter, bula yang harus keluar malah melengkung masuk dan menjebol gawang Fabian Barthez. Tendangan yang mematahkan hukum Newton. Momen inilah yang tidak bisa diulang kembali. Tidak seperti sinetron yang bisa diulang-ulang, momen dalam sepakbola tidak bisa di repetisi. Headbutt Zidane ke dada Materazzi, diving Busquets saat melawan Inter Milan, Tendangan Frank Lampard saat melawan Jerman yang seharusnya gol namun dianulir wasit. Momen-momen tersebut memang tidak bisa diulang, tetapi akan selalu menjadi perbincangan hangat seiring bergulirnya waktu.

Sepak bola tidak melulu tentang  permainan 2 x 45 menit di bidang persegi dengan luas 100x75 m. Terkadang,  sepak bola memiliki kisah/cerita yang menarik dan inspiratif untuk diperbincangkan dan diceritakan  ketimbang pertandingan sepak bola itu sendiri.

Menurut Walter Fisher dalam teori naratif paradigma, manusa adalah makhluk pencerita, manusia lebih mudah terbujuk melalui cerita-cerita naratif dan imajinatif. Teori ini yang di aplikasikan kedalam sepakbola melalui kisah, entah didalam lapangan maupun diluar lapangan.

Kisah yang mampu membuat kita begitu bersemangat, tersentuh atau bahkan bahagia.Entah itu kisah seorang aktivis wanita  bernama Anne Williams yang meminta keadilan setelah kehilangan (baca: meninggal) anaknya dalam tragedi Hillborough 1989 silam, entah kelompok aktivis green peace yang membentangkan spanduk bertuliskan "DON'T FOUL THE ARCTICS" yang ditujukan kepada perusahaan minyak, Gazprom, entah kisah kepala babi, pisang, vespa, kucing. Entah kisah seorang pemain bertahan Chelsea yang doyan selingkuh hingga menjadi bulan-bulanan di media sosial atau kisah striker asal Belanda yang takut akan ketinggian sehingga dijuluki "The Non Flying Dutchman" dan masih banyak kisah-kisah menarik lainnya. Diluar lapangan hijau ada drama-drama yang tak kalah menarik.

Di Indonesia, sepak bola merupakan alat pemersatu bangsa, menghilangkan sejenak batas-batas strata sosial dan kesukuan. Siapa yang tahu Bonek dan Aremania bisa bersatu dan bersama-sama saat mendukung Indonesia. Seakan-akan menghipnotis masyarakat untuk melupakan masalah di negara yang katanya indah ini untuk sesaat. Sepakbola mampu memupuk jiwa nasionalisme yang sudah pudar bahkan terasa sudah mati di negara ini. Semangat sepak bola inilah yang menjalar ke semua lapisan masyrakat, tidak peduli kaya atau miskin, tua atau muda. Sadar atau tidak, semangat inilah yang mampu menyatukan mereka semua.

Mesikpun olahraga ini sudah dicengkram oleh hegemoni kapistalisme politik-ekonomi, tetapi melalui kisah-kisah dramatis, sepakbola mempunyai tempat tersendiri di hati penganutnya. Sepak bola menyimpan kisah drama, selebrasi, konflik, sensasi, klenik, intrik dan tragedi yang menghiasinya. Sepak bola merupakan wadah investasi emosi manusia. Dan karena itulah, kita menyukai atau bahkan mengagung-agungkan olahraga ini. Sepak bola menyimpan momen historikal di dalam dan di luar lapangan. Seperti kata Don Ancelotti "Football is the most important of the less important things in the world,". Nobody could have said it better, sir.

Jadi, darimana anda mulai mencoba menyukai sepak bola ?

Jumat, 02 Mei 2014

Runtuhnya Hegemoni Sepak Bola Menyerang


Apa yang ada di pikiran anda jika ditanya mengenai sepak bola yang indah ? Menyerang ? Tika-Taka ? Total Football ? Saya setuju dengan jawaban itu. Tapi, sepak bola tidak melulu tentang menyerang, memang menyerang adalah hal yang esensial untuk mempertontonkan sepak bola indah, tapi jangan lupakan bertahan, karena sejatinya sepak bola adalah keseimbangan antara menyerang dan bertahan. Bertahan juga hal yang paling substansial dalam sepak bola. Sepak bola bertahan inilah yang kita kenal dengan sebutan Catenaccio.

Cattenacio atau pertahanan grendel merupakan sistem taktis sepakbola yang menekankan pada pertahanan yang rapat. Gaya bermain Cattenacio ini pertama kali di perkenalkan oleh pelatih Argentina Helenio Herrera dari Internazionale di tahun 1960-an. Lalu kenapa Catenaccio selalu disangkutpautkan dengan Gli Azzuri ?

Nereo Rocco lah otak dibalik kemenangan AC Milan dalam kejuaraan Eropa dan Seria A pada tahun 1950an. Dia lah yang mengembangkan cattenaccio ini. Pengenalan libero atau sweeper ini berawal dari cattenacio. Peran libero sendiri diposisikan di belakang garis tiga bek. untuk memotong laju bola, mengawal ketat striker lawan, ia harus bergerak terus untuk menutupi lubang pertahanannya. Peran ini melahirkan banyak maestro seperti Franz Beckenbauer dan Franco Baresi.

Cattenacio adalah sepak bola negatif. Begitu kata penikmat sepak bola. Mereka bertahan, menunggu pemain lawan melakukan kesalahan, serangan balik cepat dan tercipta lah sebuah gol. Praktis.

Namun, sejak diperkenalkan nya gaya permainan menyerang, catenaccio seakan-akan hilang bak ditelan bumi. Permainan bertahan dianggap gaya bermain yang usang, kuno dan membosankan. Catenaccio digantikan dengan gaya bermain yang lebih modern dan menyerang, seperti Total Football, Kick And Rush, Joga Bonito dan Tango.

Berbicara tentang sepak bola menyerang dan sepak bola bertahan, kita bisa menilik hasil laga Bayern Munchen kontra Real Madrid saat semifinal leg 2 di Allianz Arena. Laga yang sangat antiklimaks, bahkan bursa judi menge "voor" Real Madrid sampai 3/4 atau 1/2. Bandar emang tai. Tiki-Taka ala Pep Guardiola dengan Bayern Munchen-nya melawan Counter Attack ala Carlo Ancelotti dengan Real Madrid-nya. Real Madrid tampil perkasa di Allianz Arena, Bayern Munchen dibuat seperti tim pesakitan yang depresi karena kesulitan mencetak gol. Peran Thomas Muller sebagai Raumdeuter atau penafsir ruang ini tidak berfungsi karena pertahanan Real Madrid yang begitu solid. Sehingga ketika Real Madrid melakukan serangan balik melalui Cristiano Ronaldo atau Gareth Bale, pemain bertahan Bayern Munchen kelimpungan untuk melakukan track back. Alhasil tercipta lah sebuah gol. 

Possession melawan counter attack. Guardiola menerapkan high defensive line guna membantu penguasaan bola dan dominasi permainan. Tapi, Ancelotti melihat celah ini, dengan tight pressing dan counter attack-nya justru memanfaatkan tinggi nya garis pertahanan Bayern Munchen ini. Di lain sisi, Bayern Munchen begitu depresi melakukan penetrasi ke kotak penalti Real Madrid yang begitu rapat. Tidak ada ruang untuk Thomas Muller, Toni Kroos dalam menciptakan peluang dan mengeksploitasi ruang untuk Mario Mandzukic. Coentrao dan Carvajal sukses 'mengantungi' Robben dan Ribery. Hasilnya ? 0-4 untuk Real Madrid. 

Tentu masih segar di ingatan kita kekalahan telak 7-0 Barcelona atas Bayern Munchen musim lalu saat laga semi final Liga Champions. Walaupun wakil dari tanah Iberia ini begitu mendominasi permainan, tetapi serangan balik cepat yang diperagakan raksasa Bavaria tidak bisa dibendung oleh Barcelona. Namun kali ini, Bayern Munchen lah yang mengalami hal yang sama seperti Barcelona. Ironis.

Sejak 2008 silam, Tiki-Taka ala Pep Guardiola yang di implementasikan ke permainan Barcelona ini memang ditakuti oleh klub manapun. Dengan konsep penguasaan bola yang tinggi mampu membuat pemain lawan menjadi depresi sehingga melemahkan mental. Inilah yang disebut "pschyo game". Sejatinya tujuan utama Tiki-Taka bukan untuk mencetak gol tapi untuk melemahkan mental lawan. Terlebih ketika pemain lawan mendapatkan bola, pemain Barcelona akan berusaha secepat mungkin merebut bola dari kaki lawan. Jika belum cukup, pemain lain akan membantu sampai pemain lawan panik dan melakukan kesalahan. Ini merupakan filosofi dari Tiki-Taka, "Don't give ball away,".

Setelah beberapa tahun terlihat ampuh, Jose Mourinho, Roberto Di Matteo dan Nail Lennon melakukan pertemuan untuk menghancurkan rezim Tika-Taka ini. Situasinya berubah sejak 2012. Mereka menciptakan formula menaklukan Tiki-Taka. Formula tersebut bernama Parkir Bus. Dengan tight pressing untuk mencegah penguasaan bola, menumpuk pemain di area kotak penalti sendiri, adu fisik, pertahanan yang rapat dan disiplin, serangan balik cepat, dan mind games merupakan bahan utama formula tersebut. Ketika tim sekelas Glasgow Celtic bisa menyulitkan dan bahkan mengalahkan Barcelona, Chelsea-nya Roberto Di Matteo dengan taktik ultradefensif yang mampu membuat Messi tak berdaya. Pertahanan grendel ala Internazionale-nya Mourinho yang menyulitkan Xavi mengatur ritme dan tempo permainan. Setelah itu, dominasi Tiki-Taka Barcelona era Pep pun perlahan pupus.

Banyak kasus kekalahan menimpa klub yang memiliki filosofi sepak bola menyerang atau possession game, salah satu nya adalah Arsenal saat di permak habis-habisan oleh Chelsea dengan skor 6-0. Kronologinya sama, pressing-counter attack-goal atau set piece-goal.

Taktik bertahan, catenaccio, parkir bus, dan negative football atau apapun namanya bukan merupakan taktik haram dalam sepakbola, Sepakbola tidak cukup menarik jika hanya melihat dua tim saling menyerang, bukankah akan lebih menarik jika salah satu tim mampu mempertunjukan aksi dalam meredam serangan lawan, bukan ? Toh, tidak ada larangan taktik bertahan dalam regulasi FIFA. Inilah seni dalam sepak bola, siapa pintar memainkan seni tersebut, maka akan meraih kemenangan. Label sepak bola negatif tercipta karena adanya konstruksi bahwa seni bertahan adalah untuk pengecut dan bersifat haram. Hei, ini sepak bola bukan permainan bekel. Strategi yang berbicara dilapangan, Tidak ada strategi yang baik dan buruk, yang ada hanya strategi yang tepat.

Saya bertaruh beberapa musim kedepan kita akan disuguhi sepak bola bertahan yang mendominasi sepak bola menyerang. Rezim sepak bola menyerang tinggal menunggu tahtanya lengser dan diakuisisi oleh sepak bola bertahan. Mungkin kita akan melihat laga antara Chelsea kontra Real Madrid saling menunggu di kotak penalti masing-masing untuk diserang dan saling membuat counter attack.

Seperti kata Jose Mourinho dalam konferensi persnya 1 jam sebelum kick off Bayern Munchen kontra Real Madrid, "A team that doesn't defend well doesn't have many chances to win."

Mari kita lihat apakah sepak bola menyerang mampu bertahan dari dominasi sepak bola bertahan atau sepak bola bertahan mampu menyerang dan meruntuhkan hegemoni sepak bola menyerang ?

Rabu, 29 Januari 2014

Sepakbola, Fanatisme, dan Masokisme: Kenyataan Yang Tidak Bisa Dihidari


Pernahkah anda terbayang jika di dunia ini tidak ada yang menyukai sepakbola ? Pernahkah anda terbayang jika dalam sebuah pertandingan sepakbola tidak ada supporter ? Bayangkan! Dalam sebuah stadion hanya ada 22 pemain yang bertanding, wasit, pemain pengganti, pelatih, dan official klub. Hanya ada suara teriakan pelatih dan suara angin sunyi yang menyelinap di tribun-tibun stadion. Aneh bukan ?

Sepakbola bukan apa-apa tanpa supporter, tanpa supporter sepakbola tidak bisa berdiri tegak diatas olahraga lain nya. Tampaknya slogan gerakan "Against Modern Football" ada benarnya juga, "Football is nothing without fans," ujar mereka. Sebuah kalimat yang membuat sisi humanisme kita bergidik. Sahih-sahih saja jika mereka mengatakan hal tersebut, toh jika menilik beberapa kasus yang pernah terjadi ada benarnya juga. Butuh bukti ? Anda mempunyai mesin pencari bukan ?.

Dewasa ini bermacam-macam definisi supporter mulai banyak bermunculan. Siapapun yang membuatnya, kita sepakat akan hal itu. Dari supporter karbitan, glory hunter, hingga supporter fanatik. Tunggu dulu! Anda pasti ingin membuat statement bahwa Manchester United mempunyai glory hunter terbanyak, bukan ? Kita luruskan sejenak. United ? Musim ini ? Sudah gila anda rupanya!

Lalu, bagaimana dengan supporter fanatik ? Kita biasa menyebutnya hooligans atau tifosi tergantung anda lebih menyukai imperialisme atau fasisme. Klub adalah segalanya bagi mereka, klub adalah agama, klub ada ideologi bagi mereka. Ironis. Pernah menonton "Green Street Hooligans" ? Bagaimana aksi heroik supporter fanatik West Ham United saat menghadapi supporter Milwall. Tak pelak, baku hantam pun tejadi saat mereka bertemu. 

Jika dicermati, supporter fanatik dalam sepakbola benar-benar serupa dengan Sisifus. Sisifus adalah tokoh didalam esai karya Albert Camus, dia adalah pria yang dikutuk untuk mendorong batu hingga puncak bukit lalu batu itu akan turun lagi kebawah dan Sisifus kembali mendorong batu itu lagi. Siklus nya begitu terus hingga kiamat. Sama halnya dengan supporter fanatik. Mereka mendukung sebuah klub, apapun akan dilakukan demi klub tersebut. Klub tersebut menang, kalah, seri lalu tidak juara, mereka diejek supporter lain dan mereka tetap mendukungnya. Seperti motto mereka, "win, lose, or tie, i still support (nama klub)" atau "(nama klub) till i die". Siapa yang menciptakan konstruksi pemikiran seperti ini ?

Sadar atau tidak supporter fanatik merupakan tipe-tipe manusia masokis. Mereka senang disakiti dan tersiksa dengan predikat mereka sebagai supporter fanatik. Tandanya jelas, mereka selalu mendukung klub dalam kondisi apapun, jangankan menang, kalah pun mereka akan tetap selalu mendukung klub tersebut. Pada akhirnya mereka akan dihina, diejek, dan di olok-olok oleh supporter klub yang lain. Apalagi supporter Arsenal, mereka senang mendukung sebuah klub yang 9 tahun tanpa gelar, lalu mereka menerima cacian demi cacian dari supporter lain dengan senang hati. Atau supporter Liverpool ? Mendukung klub yang 20 tahun lebih belum pernah mencicipi trophy BPL. Bagaimana dengan supporter yang klubnya selalu kalah ? Ah, terlalu banyak yang mengidap masokis berat.

Tapi, itu lah sisi menarik dari supporter fanatik, tanpa kehadiran mereka, stadion tak ubahnya sebatas arsitektur ciptaan manusia belaka. Tak akan ada perayaan kemenangan, tak akan ada romantisme antara pesepakbola dengan supporter. Apa jadinya stadion tanpa kehadiran mereka ? Hambar, seperti sayur kurang garam. Sunyi, sepi dan senyap persis seperti menonton film di bioskop 21. Sepertinya memang kodratnya masokis tertanam dalam diri seorang supporter fanatik. 

Jadi, apakah kalian termasuk supporter fanatik tersebut ? Jika iya, maka anda adalah seorang masokis. Pada akhirnya hanya orang lain dan diri kalian sendiri yang menilainya.

Selasa, 28 Januari 2014

5 Tips Agar Tidak Terlihat Bodoh Saat Piala Dunia 2014


Piala Dunia. Siapa yang tidak kenal dengan piala dunia ? dari anak SD hingga anak kuliah yang skripsi nya tak kunjung selesai pun juga tahu. Dari pejabat yang suka korupsi hingga pelacur yang suka pulang pagi pun juga tahu. Perhelatan akbar yang berlangsung 4 tahun sekali ini benar-benar mempunyai daya pikat yang luar biasa terhadap penduduk dunia. Siapa peduli dengan pemenang Ballon D'or, siapa peduli Juan Mata ke Manchester United, siapa peduli dengan posisi Manchester United saat ini di Premier League. Tahun ini, 2014. Semua mata akan tertuju ke 32 gladiator lapangan tersebut.

Indonesia juga tidak mau kalah. Indonesia tidak mungkin luput dari euforia tersebut. Mungkin untuk yang paham akan piala dunia akan menikmati laga demi laga secara khidmat. Lalu, bagaimana dengan yang benar-benar tidak mengerti sama sekali dengan piala dunia ? Berikut beberapa tips agar anda tidak terlihat bodoh saat piala dunia 2014

1. Tentukan Jagoan Anda

Ini adalah saran yang paling vital yang harus anda lalui sebelum melanjutkan ke saran berikutnya. Ada 32 negara di piala dunia 2014 nanti. Akan ada masa nya dimana ketika piala dunia bergulir teman anda akan bertanya "Lo jagoin siapa nih nanti ?,". Anda bebas memilih salah satu atau salah dua negara tersebut untuk dijadikan jagoan anda. Tapi, saya menyarankan untuk memilih 1 negara saja agar anda tidak di cap karbitan. Tapi jika anda tetap kekeuh untuk memilih lebih dari satu negara, itu hak anda. Anda bisa menjagokan Inggris, tapi jangan salahkan saya jika anda menyesal karena Inggris tidak lolos fase grup. Atau anda juga bisa menjagokan Spanyol, jangan lupa minum espresso terlebih dahulu jika ingin menonton Spanyol. Tapi, jangan jagokan Indonesia di piala dunia jika tidak ingin di cap dungu oleh teman anda.

 2. Cari Pengetahuan Umum Seputar Jagoan Anda

Setelah anda menentukan jagoan anda, tentu sekarang anda akan merasa sedikit lebih pintar. Tidak! justru sebaliknya. Anda akan merasa semakin bodoh jika menjagokan tim Spanyol tapi tidak mengetahui seputar tim Spanyol tersebut. Anda tidak mungkin menjawab jika Messi adalah pemain Spanyol karena dia bermain di Barcelona. Alih-alih di cap pintar oleh teman anda, malah anda akan di cap dungu (lagi) oleh teman anda. Tentu anda tidak ingin mengalami kejadian seperti itu bukan ?  Maka dari itu gunakan lah internet! Cari informasi mengenai tim jagoan anda. Siapa pelatih Spanyol, kenapa Busquets selalu diving, siapa skipper Spanyol, apa ukuran pakaian dalam Viscente Del Bosque, apa makanan kesukaan pemain Spanyol. Jika anda telah menggali informasi yang cukup seputar jagoan anda. Maka anda siap menerima rentetan pertanyaan dari teman anda.

3. DIskusikan Tim Negara Lain Dengan Teman Anda

Jika anda sudah mencapai tahap ini, saat nya anda mulai menunjukan pemahaman anda tentang piala dunia dengan teman anda. Piala dunia tidak melulu tentang jagoan anda. Anda juga harus mempelajari tim negara lain agar teman anda tidak mengira pengetahuan anda cetek. Katakan bahwa Hugo Lloris adalah kiper terbaik di piala dunia 2014, katakan bahwa Emile Heskey merupakan striker papan atas yang kemampuan nya di atas Messi dan Ronaldo, dan jangan lupa katakan bahwa Inggris akan menjuarai piala dunia 2014. Jika anda sudah mengatakan itu semua niscaya teman anda akan kagum akan kejeniusan anda.

4. Aktif di Media Sosial

Tentu anda mempunyai Twitter, Path, atau Instagram ? Jika punya gunakan lah media sosial tersebut sebagai sarana untuk menginvestasikan luapan emosi anda saat menonton piala dunia. Berkicau lah di twitter anda saat ada kejadian menarik di pertandingan tersebut, Anggap akun anda adalah akun anonim yang selalu livetweet sehingga banyak di retweet oleh khalayak. misal: "wasitnya ga adil, sialan!", "Full Time: Jerman 0-5 USA" "GOLLLLL". Hal ini akan membuat teman-teman anda percaya bahwa anda adalah pundit sepakbola.  Jangan lupa selfie dengan tattoo bendera negara jagoan anda atau stiker bendera negara di kedua pipi anda lalu posting di Path atau Instagram, jangan lupakan hashtag #iphonesia #instagood #selfie. Jika sudah mencapai tahap ini anda sudah bisa menulis di Bolatotal.

5. Beli Jersey

Saat piala dunia tidak jarang kafe-kafe yang rela buka hingga dini hari demi mengadakan nonton bareng. Biasanya kafe-kafe tersebut mulai berlomba-lomba mengadakan nonton bareng saat ada nya partai big match. Demi mempertahankan kredibilitas anda sebagai seorang yang paham akan piala dunia, tentu anda tidak mungkin mengenakan jersey Houston Rockets atau Boston Red Sox ke partai Jerman kontra Brazil. Anda akan terlihat sangat konyol. Beli lah beberapa jersey timnas papan atas seperti, Argentina, Jerman, Spanyol, dan Prancis. Saya sarankan jangan pernah membeli jersey timnas Inggris jika anda tidak ingin jersey tersebut berjamur di lemari pakaian anda. Saat itu anda akan menemui banyak pedagang jersey mulai dari broadcast BBM hingga di media sosial. Dari yang Grade Original sampai yang KW 1000. Tapi saran saya beli lah jersey original. Ah, tapi orang Indonesia mana mau menghabiskan uang 400 ribu demi sehelai kain yang hanya dikenakan selama sebulan, bukan begitu ?


Jika anda sudah mengerjakan saran demi saran, maka selamat anda sudah siap menghadapi piala dunia 2014. Ada yang mau menambahkan lagi ?.

Piala dunia bagaikan hari besar keagamaan, di agung-agungkan, dipuja-puja. Mengutip kalimat dari artikel @esya7

"Marhaban ya 2014. Marhaban ya World Cup Fever."

nb: Artikel ini ditulis dengan sadar, tanpa adanya intervensi dari pihak manapun.  Hal-hal yang disebutkan di dalam artikel ini merupakan fiktif belaka, baik penulis dan tokoh. Tidak diperkenankan percaya dengan artikel di atas.

Pages