![]() |
| source: google.com |
Beberapa teman wanita sering bertanya mengapa saya begitu memuja olahraga si kulit bundar ini? Satu pertanyaan yang menimbulkan beragam jawaban dari yang objektif, subjektif sampai yang imajinatif. Saya pun mempunyai alasan tersendiri yang mungkin bersifat absurd/abstrak dan aneh untuk kalian pahami. Mungkin kalian akan sedikit mengerti mengapa saya dan orang-orang diluar sana begitu mencintai sepakbola jika kalian menyaksikan laga final Champions League antara Real Madrid kontra Atletico madrid pekan lalu.
Ketidakpastian. Dalam hidup tentu kita mengenal sebuah ketidakpastian, bukan ? ketidakpastian bisa kita jumpai dikehidupan sehari-hari kita. Dalam sepak bola begitu banyak kita temui ketidakpastian tersebut, baik didalam lapangan, maupun diluar lapangan. Tidak usah jauh-jauh, final Champions league pekan lalu mewakili satu dari banyaknya ketidakpastian dalam sepakbola.
Berlaga tanpa Arda Turan dan Diego Costa yang hanya bermain beberapa menit tentu membuat Atletico Madrid ibarat mengkonsumsi magic mushroom tapi tidak mabuk. Paska gol Diego Godin, tempo permainan diambil alih oleh Real Madrid. Atletico Madrid bermain hati-hati. Hanya ada beberapa peluang dari Real Madrid yang mampu membuat fans Atletico Madrid sport jantung. Memasuki menit ke 90, fans Atletico berdoa tiap detik, begitupun petaruh yang menjagokan Atletico. Tidak ada yang menyangka Sergio Ramos mencetak gol dimenit 90+3 ke gawang Atletico Madrid. Drama. Mungkin sepulang laga tersebut Thibaut Curtois akan mendongengkan kisah ini kepada anaknya. Saya yakin pengukir trophy Big Ear sudah mengukir tulisan Atletico Madrid di trophy tersebut sebelum gol Ramos terjadi. Selanjutnya seperti yang bisa kalian tebak, mental Atletico Madrid jatuh ke bumi bersamaan dengan moral Real Madrid yang terbang tinggi ke ionosfer. Hasilnya ? Real Madrid berhasil mendapatkan ladecima nya.
Berbicara ketidakpastian, tentu langsung teringat akan final Champions League 2005 yang mempertemukan AC Milan kontra Liverpool. Liverpool tertinggal 3-0 setelah jeda babak pertama. Entah quote bijak apa yang dipaparkan Rafael Benitez kepada punggawa Liverpool saat diruang ganti. Seperti kita tahu, AC Milan medio 2005 merupakan klub yang paling ditakuti klub-klub eropa, membawa starting line up yang berisi nama-nama besar seperti Shevcenko, Maldini, dan Crespo tentu bukan hal yang mudah bagi Liverpool untuk membalikan keadaan. Tapi, Liverpool melakukannya. Mereka menampar balik AC Milan dan meraih trophy Champions League ke-5 nya melalui adu penalti. Drama. Dalam sepak bola, siapapun bisa menang, siapapun bisa juara. Tidak ada yang bisa menjamin sebuah kemenangan.
Hingar Bingar sepak bola eropa telah usai. Tapi tunggu! antuasiasme saya belum selesai sampai disini. Musim transfer pemain akan segera tiba. Diharapkan kepada seluruh fans mengencangkan sabuknya agar tidak terbawa angin surga, terutama fans Arsenal.
Musim transfer pemain merupakan musim yang ditunggu-tunggu oleh penganut bolaisme. Selama Agustus-September kita akan dijejali dengan yang namanya ketidakpastian. Siapa yang menyangka Arsenal berbesar hati menggelontorkan dana sekitar 42,5 juta Poundsterling untuk seorang Ozil ? Masih ingat saat Manchester City menawar Kaka seharga 100 juta Euro kepada Milan ? Ratusan supporter melakukan ptotes di depan markas Milan. Bahkan, ada yang mendatangi kediaman kaka di kota Milan. Enam bulan kemudian, Kaka hengkang dari San Siro, tapi bukan ke Manchester City, melainkan ke Real Madrid.
Saya teringat akan tendangan bebas Roberto Carlos saat Brasil melakoni laga melawan Perancis di turnamen Piala Konfederasi di lyon 1997 silam. Magnificent. Tendangan tersebut di buatnya dari jarak 30 meter, bula yang harus keluar malah melengkung masuk dan menjebol gawang Fabian Barthez. Tendangan yang mematahkan hukum Newton. Momen inilah yang tidak bisa diulang kembali. Tidak seperti sinetron yang bisa diulang-ulang, momen dalam sepakbola tidak bisa di repetisi. Headbutt Zidane ke dada Materazzi, diving Busquets saat melawan Inter Milan, Tendangan Frank Lampard saat melawan Jerman yang seharusnya gol namun dianulir wasit. Momen-momen tersebut memang tidak bisa diulang, tetapi akan selalu menjadi perbincangan hangat seiring bergulirnya waktu.
Sepak bola tidak melulu tentang permainan 2 x 45 menit di bidang persegi dengan luas 100x75 m. Terkadang, sepak bola memiliki kisah/cerita yang menarik dan inspiratif untuk diperbincangkan dan diceritakan ketimbang pertandingan sepak bola itu sendiri.
Menurut Walter Fisher dalam teori naratif paradigma, manusa adalah makhluk pencerita, manusia lebih mudah terbujuk melalui cerita-cerita naratif dan imajinatif. Teori ini yang di aplikasikan kedalam sepakbola melalui kisah, entah didalam lapangan maupun diluar lapangan.
Kisah yang mampu membuat kita begitu bersemangat, tersentuh atau bahkan bahagia.Entah itu kisah seorang aktivis wanita bernama Anne Williams yang meminta keadilan setelah kehilangan (baca: meninggal) anaknya dalam tragedi Hillborough 1989 silam, entah kelompok aktivis green peace yang membentangkan spanduk bertuliskan "DON'T FOUL THE ARCTICS" yang ditujukan kepada perusahaan minyak, Gazprom, entah kisah kepala babi, pisang, vespa, kucing. Entah kisah seorang pemain bertahan Chelsea yang doyan selingkuh hingga menjadi bulan-bulanan di media sosial atau kisah striker asal Belanda yang takut akan ketinggian sehingga dijuluki "The Non Flying Dutchman" dan masih banyak kisah-kisah menarik lainnya. Diluar lapangan hijau ada drama-drama yang tak kalah menarik.
Di Indonesia, sepak bola merupakan alat pemersatu bangsa, menghilangkan sejenak batas-batas strata sosial dan kesukuan. Siapa yang tahu Bonek dan Aremania bisa bersatu dan bersama-sama saat mendukung Indonesia. Seakan-akan menghipnotis masyarakat untuk melupakan masalah di negara yang katanya indah ini untuk sesaat. Sepakbola mampu memupuk jiwa nasionalisme yang sudah pudar bahkan terasa sudah mati di negara ini. Semangat sepak bola inilah yang menjalar ke semua lapisan masyrakat, tidak peduli kaya atau miskin, tua atau muda. Sadar atau tidak, semangat inilah yang mampu menyatukan mereka semua.
Mesikpun olahraga ini sudah dicengkram oleh hegemoni kapistalisme politik-ekonomi, tetapi melalui kisah-kisah dramatis, sepakbola mempunyai tempat tersendiri di hati penganutnya. Sepak bola menyimpan kisah drama, selebrasi, konflik, sensasi, klenik, intrik dan tragedi yang menghiasinya. Sepak bola merupakan wadah investasi emosi manusia. Dan karena itulah, kita menyukai atau bahkan mengagung-agungkan olahraga ini. Sepak bola menyimpan momen historikal di dalam dan di luar lapangan. Seperti kata Don Ancelotti "Football is the most important of the less important things in the world,". Nobody could have said it better, sir.
Jadi, darimana anda mulai mencoba menyukai sepak bola ?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar