Jumat, 02 Mei 2014

Runtuhnya Hegemoni Sepak Bola Menyerang


Apa yang ada di pikiran anda jika ditanya mengenai sepak bola yang indah ? Menyerang ? Tika-Taka ? Total Football ? Saya setuju dengan jawaban itu. Tapi, sepak bola tidak melulu tentang menyerang, memang menyerang adalah hal yang esensial untuk mempertontonkan sepak bola indah, tapi jangan lupakan bertahan, karena sejatinya sepak bola adalah keseimbangan antara menyerang dan bertahan. Bertahan juga hal yang paling substansial dalam sepak bola. Sepak bola bertahan inilah yang kita kenal dengan sebutan Catenaccio.

Cattenacio atau pertahanan grendel merupakan sistem taktis sepakbola yang menekankan pada pertahanan yang rapat. Gaya bermain Cattenacio ini pertama kali di perkenalkan oleh pelatih Argentina Helenio Herrera dari Internazionale di tahun 1960-an. Lalu kenapa Catenaccio selalu disangkutpautkan dengan Gli Azzuri ?

Nereo Rocco lah otak dibalik kemenangan AC Milan dalam kejuaraan Eropa dan Seria A pada tahun 1950an. Dia lah yang mengembangkan cattenaccio ini. Pengenalan libero atau sweeper ini berawal dari cattenacio. Peran libero sendiri diposisikan di belakang garis tiga bek. untuk memotong laju bola, mengawal ketat striker lawan, ia harus bergerak terus untuk menutupi lubang pertahanannya. Peran ini melahirkan banyak maestro seperti Franz Beckenbauer dan Franco Baresi.

Cattenacio adalah sepak bola negatif. Begitu kata penikmat sepak bola. Mereka bertahan, menunggu pemain lawan melakukan kesalahan, serangan balik cepat dan tercipta lah sebuah gol. Praktis.

Namun, sejak diperkenalkan nya gaya permainan menyerang, catenaccio seakan-akan hilang bak ditelan bumi. Permainan bertahan dianggap gaya bermain yang usang, kuno dan membosankan. Catenaccio digantikan dengan gaya bermain yang lebih modern dan menyerang, seperti Total Football, Kick And Rush, Joga Bonito dan Tango.

Berbicara tentang sepak bola menyerang dan sepak bola bertahan, kita bisa menilik hasil laga Bayern Munchen kontra Real Madrid saat semifinal leg 2 di Allianz Arena. Laga yang sangat antiklimaks, bahkan bursa judi menge "voor" Real Madrid sampai 3/4 atau 1/2. Bandar emang tai. Tiki-Taka ala Pep Guardiola dengan Bayern Munchen-nya melawan Counter Attack ala Carlo Ancelotti dengan Real Madrid-nya. Real Madrid tampil perkasa di Allianz Arena, Bayern Munchen dibuat seperti tim pesakitan yang depresi karena kesulitan mencetak gol. Peran Thomas Muller sebagai Raumdeuter atau penafsir ruang ini tidak berfungsi karena pertahanan Real Madrid yang begitu solid. Sehingga ketika Real Madrid melakukan serangan balik melalui Cristiano Ronaldo atau Gareth Bale, pemain bertahan Bayern Munchen kelimpungan untuk melakukan track back. Alhasil tercipta lah sebuah gol. 

Possession melawan counter attack. Guardiola menerapkan high defensive line guna membantu penguasaan bola dan dominasi permainan. Tapi, Ancelotti melihat celah ini, dengan tight pressing dan counter attack-nya justru memanfaatkan tinggi nya garis pertahanan Bayern Munchen ini. Di lain sisi, Bayern Munchen begitu depresi melakukan penetrasi ke kotak penalti Real Madrid yang begitu rapat. Tidak ada ruang untuk Thomas Muller, Toni Kroos dalam menciptakan peluang dan mengeksploitasi ruang untuk Mario Mandzukic. Coentrao dan Carvajal sukses 'mengantungi' Robben dan Ribery. Hasilnya ? 0-4 untuk Real Madrid. 

Tentu masih segar di ingatan kita kekalahan telak 7-0 Barcelona atas Bayern Munchen musim lalu saat laga semi final Liga Champions. Walaupun wakil dari tanah Iberia ini begitu mendominasi permainan, tetapi serangan balik cepat yang diperagakan raksasa Bavaria tidak bisa dibendung oleh Barcelona. Namun kali ini, Bayern Munchen lah yang mengalami hal yang sama seperti Barcelona. Ironis.

Sejak 2008 silam, Tiki-Taka ala Pep Guardiola yang di implementasikan ke permainan Barcelona ini memang ditakuti oleh klub manapun. Dengan konsep penguasaan bola yang tinggi mampu membuat pemain lawan menjadi depresi sehingga melemahkan mental. Inilah yang disebut "pschyo game". Sejatinya tujuan utama Tiki-Taka bukan untuk mencetak gol tapi untuk melemahkan mental lawan. Terlebih ketika pemain lawan mendapatkan bola, pemain Barcelona akan berusaha secepat mungkin merebut bola dari kaki lawan. Jika belum cukup, pemain lain akan membantu sampai pemain lawan panik dan melakukan kesalahan. Ini merupakan filosofi dari Tiki-Taka, "Don't give ball away,".

Setelah beberapa tahun terlihat ampuh, Jose Mourinho, Roberto Di Matteo dan Nail Lennon melakukan pertemuan untuk menghancurkan rezim Tika-Taka ini. Situasinya berubah sejak 2012. Mereka menciptakan formula menaklukan Tiki-Taka. Formula tersebut bernama Parkir Bus. Dengan tight pressing untuk mencegah penguasaan bola, menumpuk pemain di area kotak penalti sendiri, adu fisik, pertahanan yang rapat dan disiplin, serangan balik cepat, dan mind games merupakan bahan utama formula tersebut. Ketika tim sekelas Glasgow Celtic bisa menyulitkan dan bahkan mengalahkan Barcelona, Chelsea-nya Roberto Di Matteo dengan taktik ultradefensif yang mampu membuat Messi tak berdaya. Pertahanan grendel ala Internazionale-nya Mourinho yang menyulitkan Xavi mengatur ritme dan tempo permainan. Setelah itu, dominasi Tiki-Taka Barcelona era Pep pun perlahan pupus.

Banyak kasus kekalahan menimpa klub yang memiliki filosofi sepak bola menyerang atau possession game, salah satu nya adalah Arsenal saat di permak habis-habisan oleh Chelsea dengan skor 6-0. Kronologinya sama, pressing-counter attack-goal atau set piece-goal.

Taktik bertahan, catenaccio, parkir bus, dan negative football atau apapun namanya bukan merupakan taktik haram dalam sepakbola, Sepakbola tidak cukup menarik jika hanya melihat dua tim saling menyerang, bukankah akan lebih menarik jika salah satu tim mampu mempertunjukan aksi dalam meredam serangan lawan, bukan ? Toh, tidak ada larangan taktik bertahan dalam regulasi FIFA. Inilah seni dalam sepak bola, siapa pintar memainkan seni tersebut, maka akan meraih kemenangan. Label sepak bola negatif tercipta karena adanya konstruksi bahwa seni bertahan adalah untuk pengecut dan bersifat haram. Hei, ini sepak bola bukan permainan bekel. Strategi yang berbicara dilapangan, Tidak ada strategi yang baik dan buruk, yang ada hanya strategi yang tepat.

Saya bertaruh beberapa musim kedepan kita akan disuguhi sepak bola bertahan yang mendominasi sepak bola menyerang. Rezim sepak bola menyerang tinggal menunggu tahtanya lengser dan diakuisisi oleh sepak bola bertahan. Mungkin kita akan melihat laga antara Chelsea kontra Real Madrid saling menunggu di kotak penalti masing-masing untuk diserang dan saling membuat counter attack.

Seperti kata Jose Mourinho dalam konferensi persnya 1 jam sebelum kick off Bayern Munchen kontra Real Madrid, "A team that doesn't defend well doesn't have many chances to win."

Mari kita lihat apakah sepak bola menyerang mampu bertahan dari dominasi sepak bola bertahan atau sepak bola bertahan mampu menyerang dan meruntuhkan hegemoni sepak bola menyerang ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages