Pernahkah anda terbayang jika di dunia ini tidak ada yang menyukai sepakbola ? Pernahkah anda terbayang jika dalam sebuah pertandingan sepakbola tidak ada supporter ? Bayangkan! Dalam sebuah stadion hanya ada 22 pemain yang bertanding, wasit, pemain pengganti, pelatih, dan official klub. Hanya ada suara teriakan pelatih dan suara angin sunyi yang menyelinap di tribun-tibun stadion. Aneh bukan ?
Sepakbola bukan apa-apa tanpa supporter, tanpa supporter sepakbola tidak bisa berdiri tegak diatas olahraga lain nya. Tampaknya slogan gerakan "Against Modern Football" ada benarnya juga, "Football is nothing without fans," ujar mereka. Sebuah kalimat yang membuat sisi humanisme kita bergidik. Sahih-sahih saja jika mereka mengatakan hal tersebut, toh jika menilik beberapa kasus yang pernah terjadi ada benarnya juga. Butuh bukti ? Anda mempunyai mesin pencari bukan ?.
Dewasa ini bermacam-macam definisi supporter mulai banyak bermunculan. Siapapun yang membuatnya, kita sepakat akan hal itu. Dari supporter karbitan, glory hunter, hingga supporter fanatik. Tunggu dulu! Anda pasti ingin membuat statement bahwa Manchester United mempunyai glory hunter terbanyak, bukan ? Kita luruskan sejenak. United ? Musim ini ? Sudah gila anda rupanya!
Lalu, bagaimana dengan supporter fanatik ? Kita biasa menyebutnya hooligans atau tifosi tergantung anda lebih menyukai imperialisme atau fasisme. Klub adalah segalanya bagi mereka, klub adalah agama, klub ada ideologi bagi mereka. Ironis. Pernah menonton "Green Street Hooligans" ? Bagaimana aksi heroik supporter fanatik West Ham United saat menghadapi supporter Milwall. Tak pelak, baku hantam pun tejadi saat mereka bertemu.
Jika dicermati, supporter fanatik dalam sepakbola benar-benar serupa dengan Sisifus. Sisifus adalah tokoh didalam esai karya Albert Camus, dia adalah pria yang dikutuk untuk mendorong batu hingga puncak bukit lalu batu itu akan turun lagi kebawah dan Sisifus kembali mendorong batu itu lagi. Siklus nya begitu terus hingga kiamat. Sama halnya dengan supporter fanatik. Mereka mendukung sebuah klub, apapun akan dilakukan demi klub tersebut. Klub tersebut menang, kalah, seri lalu tidak juara, mereka diejek supporter lain dan mereka tetap mendukungnya. Seperti motto mereka, "win, lose, or tie, i still support (nama klub)" atau "(nama klub) till i die". Siapa yang menciptakan konstruksi pemikiran seperti ini ?
Sadar atau tidak supporter fanatik merupakan tipe-tipe manusia masokis. Mereka senang disakiti dan tersiksa dengan predikat mereka sebagai supporter fanatik. Tandanya jelas, mereka selalu mendukung klub dalam kondisi apapun, jangankan menang, kalah pun mereka akan tetap selalu mendukung klub tersebut. Pada akhirnya mereka akan dihina, diejek, dan di olok-olok oleh supporter klub yang lain. Apalagi supporter Arsenal, mereka senang mendukung sebuah klub yang 9 tahun tanpa gelar, lalu mereka menerima cacian demi cacian dari supporter lain dengan senang hati. Atau supporter Liverpool ? Mendukung klub yang 20 tahun lebih belum pernah mencicipi trophy BPL. Bagaimana dengan supporter yang klubnya selalu kalah ? Ah, terlalu banyak yang mengidap masokis berat.
Tapi, itu lah sisi menarik dari supporter fanatik, tanpa kehadiran mereka, stadion tak ubahnya sebatas arsitektur ciptaan manusia belaka. Tak akan ada perayaan kemenangan, tak akan ada romantisme antara pesepakbola dengan supporter. Apa jadinya stadion tanpa kehadiran mereka ? Hambar, seperti sayur kurang garam. Sunyi, sepi dan senyap persis seperti menonton film di bioskop 21. Sepertinya memang kodratnya masokis tertanam dalam diri seorang supporter fanatik.
Jadi, apakah kalian termasuk supporter fanatik tersebut ? Jika iya, maka anda adalah seorang masokis. Pada akhirnya hanya orang lain dan diri kalian sendiri yang menilainya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar