Minggu, 06 Juli 2014

Kosta Rika, Sebuah Dongeng dari Amerika Tengah untuk Piala Dunia


Tidak ada yang bisa di bahas dibawah kolong langit setelah hingar bingar aktivitas capres dan cawapres usai. Namun, Piala Dunia 2014 menyuguhkan sebuah kisah yang menarik. Bukan, bukan tentang Inggris yang tidak lolos fase grup, Itu sudah biasa. Bukan juga tentang Luis Suarez yang menggigit Giorgio Chiellini. Ayolah, kita semua tahu menggigit merupakan hobi Suarez.

Dongeng tentang sekelompok figuran yang berhasil menjadi tokoh utama dalam semesta Piala Dunia 2014.

Dongeng tentang sebuah negara yang luasnya tidak lebih besar dari Indonesia. Sebuah negara yang penduduknya tidak lebih banyak dari Jakarta yang mampu menarik simpati masyarakat dunia, yaitu Kosta Rika

Dalam prolog, Kosta Rika memulai ceritanya dari Grup B putaran tiga zona Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia (Concacaf). Satu grup dengan Meksiko, El Salvador, dan Guyana, masuk putaran keempat sebagai runner-up dengan nilai sepuluh atau kalah delapan angka dari Meksiko.

Di putaran terakhir, Kosta Rika bergabung bersama Amerika Serikat, Honduras, Meksiko, Panama, dan Jamaica. Mereka sukses menyelesaikan babak ini juga sebagai runner-up dengan nilai 18. 

Dengan juru selamat yang baru, Jorge Luis Pinto. Los Ticos berhasil lolos ke piala dunia. 

Sama seperti figuran lainnya, tidak ada yang memperhitungkan Kosta Rika. Kosta Rika dipertemukan 2 tokoh utama dan 1 tokoh yang sangat menginginkan sekali menjadi tokoh utama. Uruguay, Italia dan Inggris dalam grup (yang katanya) neraka di grup D

Dalam bab pertama, Kosta Rika harus bertemu dengan juara Piala Dunia 2 kali, Uruguay. Namun diluar logika, Kosta Rika mampu mematahkan gigi Luis Suarez dan mengalahkan Uruguay 3-1. 

Kosta Rika menjadi pemuncak klasemen untuk sementara. Bagaimana dengan Inggris? Kita semua tahu dan bisa menyimpulkannya tanpa harus menonton.

Penulis sepertinya melihat talenta tokoh utama dalam diri Kosta Rika. Sehingga penulis mencoba menggunakan twist sequence dan cliff hanger dengan membuat Kosta Rika mengalahkan Uruguay guna membuat khalayak penasaran.

Masih dalam bab yang sama, Kosta Rika harus mengalahkan Italia untuk bisa melanjutkan dongeng impian tersebut. Datang dengan predikat gladiator amatir tidak membuat gentar Kosta Rika. Di depan nya berdiri gladiator militan bernama Italia yang mempunyai perisai terkenal benama Catenaccio. Namun dengan determinasi yang luar biasa, Kosta Rika mampu menghancurkan perisai Italia dan berhasil menghunuskan pedang bernama Bryan Ruiz ke jantung Italia. Italia tewas seketika.

Dongeng berlanjut, Kosta Rika dipertemukan dengan tim yang sengak nya luar biasa yang berhasil menjuarai Piala Dunia di tahun 1966 kala televisi masih hitam-putih. Biasa disebut Overratengland.

Datang dengan berbesar hati, Kosta Rika mampu menahan imbang Inggris yang sarat akan pemain-pemain kelas dunia yang bergaji tinggi. Bahkan ada seorang tokoh utama film Shrek bergaji 300 ribu Poundsterling per pekan.

Pertandingan berakhir. Kosta Rika tersenyum, Inggris juga ikut tersenyum, namun kecut karena harus pulang lebih awal dari Brazil.

Kosta Rika berhasil menutup fase grup sebagai juara grup dengan 7 poin diikuti Uruguay dengan 6 poin. Grup D memang neraka. Neraka bagi Italia dan Inggris. Arrivederci, Italia. Farewell, England.

Memasuki fase konflik. Dongeng Kosta Rika berlanjut ke babak 16 besar. Dipertemukan dengan Yunani, Negeri 1000 dewa & dewi. Dari Dewa 19 sampai Dewi Fortuna berdoa untuk kemenangan Yunani. 

Berkat kegemilangan Keylor Navas dibawah gawang, Kosta Rika mampu mengalahkan Yunani melalui adu tendangan penalti. Selidik punya selidik, Ternyata Dewi Fortuna diselingkuhi oleh Dewa Zeus sehingga Dewi Fortuna memilih untuk mendoakan Kosta Rika.

Elektabilitas Kosta Rika pun menanjak melewati elektabilitas Jokowi dan Prabowo paska mengalahkan Yunani, namun Kosta Rika tetap rendah hati. Karena dia sadar, dia hanyalah negara kecil dengan jumlah ±5 juta penduduk. Masih banyak negara lain yang pantas lolos Piala Dunia. Misalkan, Indonesia.

Los Ticos lolos ke quarter final dan berjumpa dengan Belanda. Secara intuitif, banyak diantara kita menginginkan Kosta Rika lolos ke semifinal, namun secara konatif tidak dapat dipungkiri Belanda pasti menang.

Pertandingan berjalan alot. Seperti biasa Keylor Navas bermain gemilang dibawah mistar gawang. Sepertinya Keylor Navas adalah Tuhan yang sedang menyamar. Robben masih berusaha untuk mendapatkan penalti dengan cara dia sendiri. Daley Blind tampil impresif dalam urusan mempenetrasi flank lawan. 70 menit pertandingan Belanda menguasai pertandingan. 

Begitu banyak peluang emas yang harusnya bisa dikonversikan menjadi sebuah gol. Praktis Kosta Rika hanya bertahan dan memanfaatkan serangan balik. Laga ini berakhir dengan tendangan adu penalti. Belanda menang 5-3 atas Kosta Rika. Ternyata yang menyamar menjadi Keylor Navas bukan tuhan Melainkan Wiranto.

Kosta Rika kalah, namun sudah kepalang tanggung mempunyai tempatnya sendiri di hati khalayak. Kosta Rika sebenarnya pantas lolos ke semifinal. Tapi sayangnya mereka mendapatkan lawan yang lebih pantas lolos.

Ini bukan sekedar dongeng belaka. Ini dongeng tentang perjuangan 11 pemain yang berjuang untuk membanggakan negara nya dimata dunia. Mengalahkan dongeng-dongeng picisan seperti Hercules, Pinokio dan Jack and The Giant Bean. 

Dengan ini berakhir lah dongeng bernama Kosta Rika karya Jose Luis Pinto. Dongeng dari Amerika Tengah untuk Piala Dunia. Diakhiri dengan elegan, sad ending namun happy ending. Bukan tentang kalah atau menang tetapi tentang bagaimana determinasi, passion dan sebuah proses untuk mencapai sebuah tujuan. Kosta Rika mengajarkan kita bagaimana untuk tidak menyerah saat menjalani sesuatu.

Menemukan 11 orang dalam ±5 juta penduduk tentu mudah, namun akan lebih mudah lagi jika menemukan 11 orang dalam ±200 juta penduduk. 

Sepakat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages