Selasa, 30 April 2013

Bersyukur Akan Sepakbola

Sebuah bola sepak yang hanya berdiameter sekitar 68 – 70 cm ternyata memiliki sebuah pengaruh yang teramat luar biasa bagi kehidupan umat manusia di seluruh penjuru dunia. Melihat anak-anak berlari, berkeringat, saling kejar mengejar tanpa lelah hanya untuk merebut dan menceploskan sebuah bola ke dalam gawang merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri untuk saya.

Andaikan permainan sepakbola tidak pernah ditemukan, saya tidak akan bisa membayangkan masa depan yang lebih indah daripada hari ini. Seonggok bola ini merubah begitu banyak jalan kehidupan kita. Ya, kita, termasuk saya, seorang pemuda gila bola yang mendapatkan begitu banyak pelajaran akan kehidupan ini melalui olahraga paling terkemuka di dunia.

Tentu olahraga sepakbola mengubah nasib para atlitnya yang digaji tinggi setiap pekan. Pemain semacam David Beckham dan Cristiano Ronaldo mungkin tidak akan menjadi kaya raya dan dikenal publik dunia jika bukan karena kemahiran mereka dalam mengolah si kulit bundar. Tanpa sepakbola, mungkin mereka akan lebih dikenal sebagai seorang selebriti ataupun model iklan celana dalam yang digilai para wanita.

  

Tanpa sepakbola, mungkin kita tidak akan pernah melihat sosok jenius seorang Lionel Messi seperti hari ini. Mungkin dia akan tetap menjadi anak pesakitan yang kurang gizi di pelosok Argentina. Tidak akan ada decak kagum terpancar di wajah kita saat melihat aksi ‘Sang Messias” mengobrak abrik lini pertahanan lawan.

Tanpa sepakbola, mungkin Ricardo Kaka tidak akan pernah mengucap syukur sambil menengadah dan mengacungkan jarinya ke langit setelah setiap saat ia mencetak gol. Mungkin ia tetap akan melakukan hal yang sama, tetapi tidak dalam soal mencetak gol. Mungkin Kaka hanya akan menjadi seorang pegawai negeri yang terkenal santun dan tampan. Karena sepakbola, Kaka pun diutus untuk jadi salah satu yang terbaik dalam sepakbola. Bahkan kecelakaan saat Kaka terjatuh ke dalam sebuah kolam renang kosong yang hampir merenggut karirnya pun tidak dapat menghalangi takdirnya tersebut.

Tanpa sepakbola, mungkin Negara Jepang dan Korea Selatan tidak akan dikenal dunia sebagai salah satu negara termaju di Asia. Afrika Selatan pun mungkin tidak akan terkenal seperti saat mereka menghelat pegelaran Piala Dunia 2010 silam. Terima kasih juga kepada single hits “Waka-waka” dan Syakira tentunya.

Tanpa sepakbola, mungkin Darius dan Donna Agnesia tidak akan pergi ke Barcelona untuk bertemu dengan para pemain Barcelona dan mendatangi stadion Nou Camp. Mungkin mereka akan pergi ke sana untuk mengunjungi gereja gereja tua di sana. Bahkan, mereka mungkin tidak akan berjodoh tanpa sepakbola.


Tanpa sepakbola, mungkin Martunis si bocah dari Aceh tidak akan pernah berkunjung ke Portugal seumur hidupnya. Bukanlah pula sehelai jersey timnas Portugal yang ia kenakan saat musibah Tsunami menghantam Aceh 2004 silam.

Tanpa sepakbola, tidak akan ada mimpi setinggi langit para anak muda di seluruh dunia. Tidak ada Ozora Tsubasa, Taro Misaki, Genzo Wakabayashi, Teppei Sakamoto, Kazuya Takasugi, dan Sho kasamatsuri yang membawa Jepang ke pentas sepakbola dunia. Tentunya di dalam balutan anime atau Manga.

Walaupun negaraku tercinta Indonesia memiliki segunung masalah dalam hal persepakbolaan nya, tetapi hal apalagi yang dapat mempersatukan bangsa dan negara dengan mudah jika bukan olahraga ini? Bahkan lagu “Indonesia Raya” yang dikumandangkan setiap saat sebelum pertandingan International dapat mempersatukan bangsa ini meski permainan timnas tidaklah selalu sesuai harapan.

Bayangkan saja jika Indonesia dapat menjuarai piala Asia atau lolos masuk ke babak Piala dunia suatu hari nanti? Tanpa ragu saya rela untuk memeluk bahkan mencium siapa saja yang ada di hadapan saya walaupun ia adalah orang asing. Tetesan air mata bahagia akan membanjiri negeri kita tercinta ini atas tercapainya mimpi kami para anak bangsa untuk menyaksikan “Sang Garuda” terbang tinggi menggapai dunia.

Tanpa sepakbola, tidak akan ada pembelajaran bagi kita di setiap malam minggu khususnya para pecinta sepakbola Eropa. Belajar untuk menerima kekalahan, belajar untuk tidak sombong dan banyak bicara saat tim kesayangan kita menang. Memang terdengar konyol karena siapa lah kita dimata para pemain dari tim yang kita dukung. Kenal pun tidak kenapa kita sampai begitu emosional saat melihat tim kesayangan kita bertanding? Tangis dan luapan emosi bisa meledak saat tim favorit kita menang atau kalah. Tapi itulah sensasi dan pembelajaran yang bisa kita ambil. Belajar untuk sabar, setia dalam proses, dan tentu belajar tentang hal yang bernama  kesetiaan dan juga roda kehidupan yang selalu berputar.

Bersahabat puluhan tahun dengan kawan kita masing masing yang menjadi seperti saudara di saat bermain bersama, tetapi bagaikan anjing dan kucing sesaat setelah peluit pertandingan babak pertama ditiupkan karena mengidolakan tim yang berbeda. Saling berargumen dan membela tim satu sama lain, tetapi tetap memegang teguh panji persahabatan yang sudah terikat semenjak dini. Tetap bersatu saat mendukung timnas Garuda berlaga di lapangan hijau.

Begitu banyak konflik, perbedaan, dan pembelaan. Tetapi tanpa sepakbola, saya pribadi pun tidak akan pernah memiliki banyak sekali sahabat seperti saat ini. Pertemuan dengan para sahabat di lapangan hijau sepakbola dan futsal juga lah yang membentuk saya sebagai seorang pribadi seperti hari ini. Bahkan, tanpa sepakbola, artikel ini tidak akan pernah eksis di hadapan kita semua.


Bersyukurlah kita karena sepakbola. Sepakbola yang mengajarkan kita banyak arti kehidupan dan proses pembelajaran. Sepakbola yang mempersatukan dan sepakbola yang memberikan kebahagiaan bagi siapapun yang menikmatinya.

Minggu, 21 April 2013

Kenyataan Pahit

Sisa 5 laga, selisih 13 poin. Berakhir sudah title race Barclays Premier League season 12/13. Berdasarkan perhitungan matematis, Manchester City sudah tidak mungkin bisa mengejar ketertinggalan 13 poin dari Manchester United. It's mean, United akan pasti merayakan gelar ke-20 nya di musim ini tanpa diusik oleh their noisy neighbor, Manchester City.



Jika kita bandingkan perjalanan Manchester City musim ini dengan musim lalu, dimana akhir perebutan titel premier league begitu dramatis. Berbanding terbalik dengan tahun ini. ada sesuatu yang anomali di Manchester City musim ini. Bomber mereka hilang baik ditelan bumi. Kita lihat Aguero dan Dzeko musim lalu ? mereka kesetanan, haus akan gol. Setiap pemain bertahan yang mendengar nama mereka, mungkin akan berteriak dalam hati. Hiperbola ? tidak, itu fakta. Tapi musim ini they were like shit. Bahkan Torres masih lebih baik daripada Aguero dan Dzeko di musim ini. No hard feeling Citizen.

Berterimakasih lah kalian wahai suporter United kepada Sp*rs. Karna berkat 'ayam' london utara tersebut tim kalian (akhirnya) berhasil mencapai orgasme, yaitu gelar yang ke-20. Sebutan kerennya #CHAMP20NS atau T20PHY. Typical.

Bagaimana dengan Arsenal ? menjadi 'Guard of honour' memang menyakitkan bagi suporter manapun. Jika anda tidak tahu 'Guard of honour' anda bisa bayangkan seisi Emirates stadium memberikan tepuk tangan sambil berdiri atau bahasa kerennya standing ovation kepada United yang notabenenya adalah rival utama Arsenal, setidaknya 1 dekade silam. Vermaelen cs harus menanggung malu memberikan tepuk tangan kepada Robin Van Persie, cobaan tuhan memang berat.

Lain cerita jika United (sengaja) kalah dalam laga kontra Aston Villa, bukan tidak mungkin United akan mengunci gelar yang ke 20 nya di Emirates stadium. Ironis. Dan gol Nasri tadi tidak berarti apa-apa. 20 kali juara dan 20 nomer punggungnya si Robin Van Persie yang akan tersenyum sinis saat tahu bahwa ia memenangkan titel premier league di Emirates stadium, bukan bersama Arsenal melainkan United.

Lalu, apa yang terjadi jika United mengunci gelar ke-20nya di Emirates ? Mungkin bendera kuning setengah tiang akan dikibarkan selama 1 minggu di Emirates stadium. kesedihan yang sangat mendalam. Pelajaran untuk Arsenal, pemain pergi untuk meraih trophy, sementara Arsenal setiap musim harus berjibaku memperebutkan trophy wenger atau posisi ke-4.

Tapi, hal positif yang bisa Arsenal petik dari kekalahan City tadi adalah dengan hanya selisihnya 5 poin dengan City, Arsenal masih mempunyai kans runner-up Liga. Pertanyaannya, apakah Arsenal dan suporternya akan tetap merayakan hari raya besar Santo Totteringham atau Tottenham cukup kuat menghentikan hari raya besar Santo Totteringham ciptaan kaum kafir Arsenal ?

Dear plastic fans, Sebagai supporter Arsenal yang berbudaya tinggi, saya (terpaksa) mengucapkan selamat kepada Manchester United beserta fans-fansnya yang 'loyal', yang akan mendapatkan gelarnya yang ke-20. Kenyataan memang pahit.

Senin, 15 April 2013

Suporter dan Hak

Selalu menarik bila kita membicarakan tentang sepakbola, banyak hal terkait di dalamnya. Salah satunya adalah suporter. Suporter atau biasa kita sebut dengan sebutan penonton. belakangan ini definisi suporter dibagi menjadi 2 bagian yaitu karbitan dan sejati. Entah siapa yang membuat pembagian tersebut, membuat sepakbola menjadi riweh. Jika kalian orang yang berdomisili di Jawa Barat pasti mengerti kata tersebut.


Karbitan, kata dasar dari karbit senyawa kimia dalam proses las karbit atau pematangan buah secara paksa. Tapi, bukan karbit tersebut yang akan kita bahas. Jika jika kita tarik benang merah kearah cara pandang penggemar sepakbola, terbentuk lah sebuah kata "karbitan". Kata yang tidak asing dimata penggemar sepakbola. 

Suporter karbitan atau supporter asal jadi, pemburu kemenangan  atau dikenal sebagai glory hunter. Jika kita simpulkan. suporter karbitan adalah suporter yang cuma mendukung sebuah tim disaat masa kejayaannya saja.

Suporter karbitan ini bukan selalu berarti buta sepak bola,  tapi yang jelas mereka adalah tipikal yang mau enaknya saja. Suporter karbitan biasanya bersuara lebih keras saat sukses namun paling hening saat gagal lalu membagi cinta yang tidak adil ke klub lain. Sikap suporter karbitan, yang suara koarannya bahkan lebih terdengar kencang ketimbang suporter sejati. Mereka mendadak mendukung saat timnya meraih kemenangan, namun berbalik mencaci-maki dengan sumpah serapah “seribu laknat” jika klub nya tengah terpuruk. Lalu hilang tanpa suara bak ditelan bumi. Sikap suporter karbitan ini lah yang menjadi sasaran dari kutipan ucapan manajer legendaris Liverpol, Bill Shankly. Bahwa “Anda yang tidak mendukung di saat tim tengah terpuruk, maka jangan ikut bergembira bila tim tengah menang”. 

Mereka memilah dan memilih. Mereka mendukung jika skuad tim sesuai dengan harapan mereka, namun akan mereka hujat, mereka campakkan, mereka jauhkan dari dukungan, bila klub yang saat itu mereka dukung kalah.

Berbeda sengan supporter sejati, mereka tidak akan mempersoalkan kalah-menang. Walau saat kalah dibenakanya tersimpan harapan agar klub yang mereka cintai menang. Walaupun kalah dengan skor 100-0 pun niscaya mereka tetap akan mendukung klub tersebut dan kecintaan mereka terhadap klub tidak akan pernah pudar.

Mereka yang menghamburkan uang hanya untuk membeli atribut sebuah klub, baik itu scarf ataupun kostum klub dari zaman kepresidenan Pak Soeharto sampai dengan sekarang, zaman dimana korupsi di Indonesia dilegalkan. Atribut memang diperlukan untuk menunjukan jati diri dari tiap suporter, sehingga kita dapat membedakan mereka dengan suporter yang lain. Tidak salah memang bila kita memakai berbagai macam pernak-pernik atribut. Hanya saja atribut yang dilupakan oleh setiap supporter dan paling penting adalah attitude.

Jika kita kaitkan supporter sejati dengan suatu klub. Supporter Arsenal dan Liverpool lah yang pantas didaulat menjadi supporter sejati. Sebagai suporter yang dipercaya sangat terdidik, bukan glory-hunter, dan berbudaya tinggi, para suporter Arsenal memiliki apa yang disebut dengan mental supporter sejati. Demikian juga Liverpool. Tak peduli bagaimana 2 klub tersebut telah mengecewakan berkali-kali dengan kekalahan dan nir prestasi, tetapi bagi pecinta sejati selalu saja ada alasan untuk mendukung klub itu sendiri. No hard feeling bila klub anda tidak disebutkan diatas.

Memangnya apa sih ukuran kesejatian dari penggemar sebuah klub sepak bola? Banyak sekali yang telah memberikan definisi kesejatian tersebut.

“Suporter sejati itu tetap dukung timnya baik di saat mereka berjaya atau terpuruk. Merasakan keterpurukan adalah ciri kesejatian.” 

“Suporter sejati itu yang beli jersey original klub favoritnya.”  

“Suporter sejati itu yang cuma dukung satu tim aja" 

"Suporter klub sejati itu yang gagah berani berantem sama Suporter klub lain. Bela habis-habisan" 

"Suporter sejati itu yang mengerti sejarah klubnya, hapal chants suporternya, mengenal pemain-pemainnya.”

"Suporterklub sejati itu mendukung klub secara total, dan itu termasuk membenci klub rival.” 

“Percuma banyak ngomongin bola tapi gak pernah mainin olah raganya. Pecinta sepak bola ya hobi main sepak bola.”


Dan masih banyak lagi definisi lainnya mulai dari yang objektif, subjektif hingga provokatif. Dari sekian banyak definisi ukuran kesejatian tersebut. nomor 1 lah yang cocok bila dikaitkan dengan kesejatian menurut cara pandang sepakbola. Anda boleh jadi cocok dengan salah satu atau beberapa statement diatas. Tapi pertanyaannya, seberapa pentingkah pengakuan orang-orang terhadap kesejatian anda ? seberapa pentingkah anda menilai kesejatian orang ? 

Diluar karbitan dan sejati itu sendiri ada sebuah kesanggupan yang dimiliki seseorang. Ya, hak!. Mereka berhak memilih klub apa yang ingin mereka dukung. Setiap individu mempunyai cara mereka tersendiri untuk mendukung sebuah klub. Tidak peduli apakah dia karbitan, glory hunter atau die hard fans. Karna tujuan mereka hanyalah menikmati sepakbola seutuhnya.

Pecinta sepak bola mengamati sepak bola secara keseluruhan. Menikmati banyak pertandingan, tidak memiliki kebencian berlebih terhadap sebuah tim, membaca banyak hal-hal lain yang bersinggungan dengan sepak bola. Memiliki pengetahuan luas bukan hanya terhadap klub favoritnya saja, tapi juga banyak hal lain lebih dari sekadar tahu formasi dan berita teraktual klub. Mendukung sebuah klub namun tidak militan dan tidak marah jika klubnya diledek. Biasa saja. Orang itu tetap merasakan ketar-ketir ketika menyaksikan tim favoritnya bertanding, mereka juga mencela tim rival, namun ya hanya sebatas itu. Just for fun, no hard feelings. End of story.

Entah anda suporter sejati atau suporter karbitan, glory hunter atau anti kemapanan, supporter lawas atau supporter kemaren sore, yang jelas kita sama-sama mencintai sepak bola. 

Pages