London, 12 Agutus 1940. Angin bertiup sepoi-sepoi dikota London kala itu, matahari mampu menyinari hampir seluruh Britania Raya, masyarakat sipil sibuk beraktivitas seperti biasa. Namun, keindahan siang itu sekejap hilang saat Luffwafle (Angkatan Udara Jerman) membawa 'hadiah' berupa 963 pesawat tempur dan 1200 pesawat pembom untuk menduduki Inggris, dengan kekuatan superior seperti ini, Jerman merasa dirinya mampu mengalahkan kekuatan udara dan menduduki Inggris dengan mudah. Angkatan Udara Inggris tidak tinggal diam, RAF (Royal Air Force) berhasil Memukul mundur Luffwafle dan mempertahankan kota London. Ratusan pesawat Jerman baik pembom maupun tempur rontok, Sebagian kota London hancur, walaupun kerugian di pihak Inggris tidaklah kecil. Namun efek yang timbul bagi Jerman jauh lebih hebat daripada efek untuk Inggris. adalah penggalan salah satu momen penting saat Perang Dunia II, Battle of Britain.
66 tahun kemudian, Inggris datang dengan membawa prajurit-prajurit terbaiknya bernama The Three Lions ke Berlin, Jerman merasa diremehkan melihat Inggris hanya membawa prajurit-prajurit lugu yang terlihat seperti pemabuk yang menghabiskan akhir pekannya di bar-bar kecil dan menenggak whisky Skotlandia. Jerman mempersiapkan pasukan terbaiknya untuk menghadang The Three Lions yang bernama Der Panzer. Peristiwa tadi malam dikenal dengan nama Battle of Berlin. Kedatangan The Three Lions ke Berlin bukan tanpa alasan, Inggris hanya ingin bernostalgia dengan Jerman perihal kekalahan Jerman saat Perang Dunia II kala itu. The Three Lions yang dipimpin oleh Sir General Marshall Roy Hodgson bersama dengan Captain Gary Cahill dan prajurit-prajurit terpilih lainnya datang dengan percaya diri ke ibukota Jerman tersebut. Dipihak lain, Generalfeldmarschall Joachim Loew dan Hauptmann Sami Khedira berusaha menghadang serangan The Three Lions.
Tuan Rumah memulai perlawanan kurang baik, Lieutenant Rudiger bersama rekannya, Liuetenant Hummels bertahan melebar karena pressing ketat dari prajurit-prajurit Ingeris, akibat pressing ketat Inggris, sirkulasi serangan Jerman tidak stabil, praktis mereka hanya memainkan bola di final third area selama 30 menit pertama. Seiring berkembangnya permainan, General Der Kroos, yang berperan sebagai playmaker mencoba untuk memutuskan garis pertahanan Inggris, namun karena umpan-umpan pendek yang tidak efektif dan gaya permainan yang kurang kolektif membuat General Der Kroos berinisatif mensuplai bola dengan umpan-umpan panjang namun kerap digagalkan oleh Lieutenant Clyne.
Jerman mulai terlihat membaik saat Jogi Low menginstruksikan rotasi posisi, membuat General Der Ozil bermain lebih melebar dan General Der Mueller bermain lebih kedalam. Sial bagi Colonel Jack Butland, tendangan gawang yang kurang kuat mendarat di kaki General Der Kroos, Gelandang Real Madrid tersebut melakukan solo run tanpa ada penjagaan dari satupun prajurit Inggris dan diakhiri dengan tendangan kearah pojok Butland. 1-0! Kini Butland harus menceritakan kepada anaknya bahwa ia gagal membela negara karena kesalahannya sendiri. Inggris berhasil dipukul mundur beberapa saat oleh Jerman.
Jerman mulai terlihat membaik saat Jogi Low menginstruksikan rotasi posisi, membuat General Der Ozil bermain lebih melebar dan General Der Mueller bermain lebih kedalam. Sial bagi Colonel Jack Butland, tendangan gawang yang kurang kuat mendarat di kaki General Der Kroos, Gelandang Real Madrid tersebut melakukan solo run tanpa ada penjagaan dari satupun prajurit Inggris dan diakhiri dengan tendangan kearah pojok Butland. 1-0! Kini Butland harus menceritakan kepada anaknya bahwa ia gagal membela negara karena kesalahannya sendiri. Inggris berhasil dipukul mundur beberapa saat oleh Jerman.
Di awal babak kedua Jerman memasukkan Lieutenant Jonathan Tah menggantikan Lieutenant Hummels. Kedua tim saling menjual serangan. Belajar dari kesalahan babak pertama, Jerman memperbaiki strateginya di babak kedua. Para General Jerman mampu mengeksploitasi kelemahan pertahanan The Three Lions dan dikonversikan menjadi sebuah gol. Berawal dari umpan chip menawan Sami Khedira kearah Mario Gomez dan dilanjutkan dengan heading kearah pojok gawang. Gol pertamanya sejak 246 sebelum masehi. Inggris semakin terpojok. Usut punya usut, sebelum kedatangannya ke Berlin, Roy Hodgson sudah menyiapkan secarik kertas berisikan permintan maaf kepada publik Inggris jika ia tidak kembali lagi ke Britania. Ia memasukkan tangan kirinya ke saku jaket bomber tempat ia meletakkan surat tersebut. Tangan kanannya mengepal, ia tahu dirinya harus kembali ke Inggris dengan prajuritnya tanpa kurang apapun.
Beberapa saat setelah serangan meriam yang cukup telak dari Mario Gomez, The Three Lions bangkit dan menyadari kelemahan Jerman. Mereka kerap mengekspos kelemahan Emre Can yang buruk di flank kanan Jerman. Serangan Inggris pun berbuah hasil saat tendangan sudut Henderson berhasil diolah menjadi gerakan memutar yang menawan ala Johan Cruyff dan dieksekusi menjadi sebuah gol. Sementara itu di Inggris, Rooney menderita gejala panas dingin usai Harry Kane mencetak gol.
Serangan Jerman tidak jauh lebih baik dari babak pertama, setelah gol balasan Harry Kane, Inggris semakin percaya diri dan mendominasi permainan. Roy Hodgson tahu apa yang ia harus lakukan. Layaknya Alan Turing dalam film The Imitation Game yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch, ia memecahkan kode 'enigma' milik Jerman. Ia memasukkan Ross Barkley dan Jamie Vardy menggantikan Wellbeck dan Lallana. Hodgson benar benar memecahkan enigma, 1 menit selang masuknya Vardy ke lapangan, Top Skorer Premier League tersebut menghancurkan mental pemain Jerman dengan gol debut internasionalnya bersama The Three Lions dan menjadikannya sebagai pemain pertama Leicester City yang mencetak gol untuk IngerĂs setelah Gary Lineker sejak tahun 1985. Berawal dari umpan cemerlang Barkley ke Clyne yang berlari dari flank kanan Jerman yang begitu menggoda dan siap untuk diperkosa dengan pasrah dan memberikan umpan silang datar kepada Vardy, ia bisa saja mengontrol bola tersebut lulu menuntaskan skema tersebut dengan gol ke tiang dua gawang Neuer, tapi Vardy adalah Vardy, dengan percaya dirinya, ia membiarkan bola tersebut melewati kakinya dan melakukan back heel ke tiang dekat Neuer. Brilliant.
Saat pertarungan akan berakhir dengan hasil seri layaknya pertandingan-pertandingan friendly match pada umumnya yang begitu membosankan, Jordan Henderson yang begitu gemilang sejak babak pertama memberikan tendangan sudut terakhir dan berhasil diselesaikan dengan baik oleh Dier menjadi comeback yang begitu menawan. Membuat Neuer teilhat tak layak meraih penghargaan World Best Keeper In The World. Der Panzer hancur, Berlin diduduki oleh Inggris. Roy Hodgson sumringah, ia mengambil secarik kertas dari saku jaketnya dan membuangnya ke tanah. Battle Of Berlin berakhir dan banter "Germany, you'll never win anything" masih tetap berlaku.
Ada beberapa hal yang di highlight dalam pertandingan ini, sejak kemenangan kontra Jerman di final Piala Dunia 1966 dan membawa Inggris menjadi juara, performa The Three Lions tak ubahnya seperti tim nasional semenjana. Jika ditilik sejak juara dunia tahun 1966, pencapaian terbaik Inggris hanya melaju hingga quarter finals di perhelatan World Cup 2002 di Jepang dan Korea, World Cup 2006 di Jerman dan Euro 2012 di Polandia dan Ukraina, yang terburuk adalah tidak lolos group stage di Piala Dunia 2014 Brazil. Hal ini sungguh anomali mengingat sepakbola lahir dari rahim Britania Raya. Namun, ada angin surga yang berhembus paska kemenangan kontra Jerman kemarin. Penampilan kolektif dan kekompakan yang diperagakan oleh prajurit-prajurit Inggris membantah anekdot "You'll never win anything with kids". Kesulitan utama Jerman kali ini adalah membongkar pertahanan Inggris yang begitu ketat, sementara itu di lini tengah Dele Alli begitu brilian mematikan pergerakan double-pivot Jerman, Khedira dan Kroos.
Tadi malam, Dele Ali menunjukan bahwa Inggris mampu menjadi salah satu kandidat juara Eropa. Dele Alli membuat Ozil seperti kehilangan sentuhan magisnya. Menurut Roy Hodgson dalam sesi wawancara sebelum pertandingan mengatakan bahwa Dele Alli adalah masa depan Inggris dan cara bermainnya seperti mantan kapten Tim Nasional Inggris kala itu, Bryan Robson. Dele Alli mampu menjadi gelandang box to box, classic no.10 atau pivot, karena pada dasarnya Alli memiliki kemampuan untuk bermain di lini tengah manapun karena adaptasinya yang cepat. Saat babak pertama Alli ditempatkan dibelakang Kane dengan formasi 4-2-3-1, namun karena kurang efektif. Roy Hodgson mengubah pola permainan menjadi formasi diamond dengan 4 gelandang dan 2 striker lalu menempatkan Alli menjadi gelandang yang melebar agar Ross Barkley mengambil peran gelandang tengah.
Jamie Vardy? time flies, from zero to hero, from Fleetwood to Berlin. He made it! Vardy dan Kane membuktikan kepada publik bahwa sepakbola Inggris populer tidak hanya karena hak siar yang mahal dan komersialisasi industri sepakbola tetapi juga karena kualitas permainan Inggris sendiri. Kapan terakhir kali tim sepakbola, rugby dan cricket Inggris bermain baik secara bersamaan? Saya pun tidal tahu, sampai akhirnya menyaksikan laga kemarin.
Janna lupakan 1 hal, Inggris. Ini adalah laga persahabatan.
Beberapa saat setelah serangan meriam yang cukup telak dari Mario Gomez, The Three Lions bangkit dan menyadari kelemahan Jerman. Mereka kerap mengekspos kelemahan Emre Can yang buruk di flank kanan Jerman. Serangan Inggris pun berbuah hasil saat tendangan sudut Henderson berhasil diolah menjadi gerakan memutar yang menawan ala Johan Cruyff dan dieksekusi menjadi sebuah gol. Sementara itu di Inggris, Rooney menderita gejala panas dingin usai Harry Kane mencetak gol.
Serangan Jerman tidak jauh lebih baik dari babak pertama, setelah gol balasan Harry Kane, Inggris semakin percaya diri dan mendominasi permainan. Roy Hodgson tahu apa yang ia harus lakukan. Layaknya Alan Turing dalam film The Imitation Game yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch, ia memecahkan kode 'enigma' milik Jerman. Ia memasukkan Ross Barkley dan Jamie Vardy menggantikan Wellbeck dan Lallana. Hodgson benar benar memecahkan enigma, 1 menit selang masuknya Vardy ke lapangan, Top Skorer Premier League tersebut menghancurkan mental pemain Jerman dengan gol debut internasionalnya bersama The Three Lions dan menjadikannya sebagai pemain pertama Leicester City yang mencetak gol untuk IngerĂs setelah Gary Lineker sejak tahun 1985. Berawal dari umpan cemerlang Barkley ke Clyne yang berlari dari flank kanan Jerman yang begitu menggoda dan siap untuk diperkosa dengan pasrah dan memberikan umpan silang datar kepada Vardy, ia bisa saja mengontrol bola tersebut lulu menuntaskan skema tersebut dengan gol ke tiang dua gawang Neuer, tapi Vardy adalah Vardy, dengan percaya dirinya, ia membiarkan bola tersebut melewati kakinya dan melakukan back heel ke tiang dekat Neuer. Brilliant.
Saat pertarungan akan berakhir dengan hasil seri layaknya pertandingan-pertandingan friendly match pada umumnya yang begitu membosankan, Jordan Henderson yang begitu gemilang sejak babak pertama memberikan tendangan sudut terakhir dan berhasil diselesaikan dengan baik oleh Dier menjadi comeback yang begitu menawan. Membuat Neuer teilhat tak layak meraih penghargaan World Best Keeper In The World. Der Panzer hancur, Berlin diduduki oleh Inggris. Roy Hodgson sumringah, ia mengambil secarik kertas dari saku jaketnya dan membuangnya ke tanah. Battle Of Berlin berakhir dan banter "Germany, you'll never win anything" masih tetap berlaku.
Ada beberapa hal yang di highlight dalam pertandingan ini, sejak kemenangan kontra Jerman di final Piala Dunia 1966 dan membawa Inggris menjadi juara, performa The Three Lions tak ubahnya seperti tim nasional semenjana. Jika ditilik sejak juara dunia tahun 1966, pencapaian terbaik Inggris hanya melaju hingga quarter finals di perhelatan World Cup 2002 di Jepang dan Korea, World Cup 2006 di Jerman dan Euro 2012 di Polandia dan Ukraina, yang terburuk adalah tidak lolos group stage di Piala Dunia 2014 Brazil. Hal ini sungguh anomali mengingat sepakbola lahir dari rahim Britania Raya. Namun, ada angin surga yang berhembus paska kemenangan kontra Jerman kemarin. Penampilan kolektif dan kekompakan yang diperagakan oleh prajurit-prajurit Inggris membantah anekdot "You'll never win anything with kids". Kesulitan utama Jerman kali ini adalah membongkar pertahanan Inggris yang begitu ketat, sementara itu di lini tengah Dele Alli begitu brilian mematikan pergerakan double-pivot Jerman, Khedira dan Kroos.
Tadi malam, Dele Ali menunjukan bahwa Inggris mampu menjadi salah satu kandidat juara Eropa. Dele Alli membuat Ozil seperti kehilangan sentuhan magisnya. Menurut Roy Hodgson dalam sesi wawancara sebelum pertandingan mengatakan bahwa Dele Alli adalah masa depan Inggris dan cara bermainnya seperti mantan kapten Tim Nasional Inggris kala itu, Bryan Robson. Dele Alli mampu menjadi gelandang box to box, classic no.10 atau pivot, karena pada dasarnya Alli memiliki kemampuan untuk bermain di lini tengah manapun karena adaptasinya yang cepat. Saat babak pertama Alli ditempatkan dibelakang Kane dengan formasi 4-2-3-1, namun karena kurang efektif. Roy Hodgson mengubah pola permainan menjadi formasi diamond dengan 4 gelandang dan 2 striker lalu menempatkan Alli menjadi gelandang yang melebar agar Ross Barkley mengambil peran gelandang tengah.
Jamie Vardy? time flies, from zero to hero, from Fleetwood to Berlin. He made it! Vardy dan Kane membuktikan kepada publik bahwa sepakbola Inggris populer tidak hanya karena hak siar yang mahal dan komersialisasi industri sepakbola tetapi juga karena kualitas permainan Inggris sendiri. Kapan terakhir kali tim sepakbola, rugby dan cricket Inggris bermain baik secara bersamaan? Saya pun tidal tahu, sampai akhirnya menyaksikan laga kemarin.
Janna lupakan 1 hal, Inggris. Ini adalah laga persahabatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar