Jika anda lebih memilih untuk mempertaruhkan waktu tidur anda demi menonton pertandingan tengah pekan tersebut, yang hanya terdengar sayup-sayup chants dari supporter Arsenal. Maka anda adalah orang yang tahu bagaimana tertidur disaat manusia normal beraktivitas.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Le Professor nampaknya masih mempercayakan wonderkid nya yang lugu dan belum pernah mimpi basah itu untuk mengisi line up malam itu dikarenakan rotasi pemain ditambah beberapa pemain yang cidera.
Memasang Fabianski sebagai garda terakhir dibelakang gawang, Vermaelen-Koscielny berperan menjadi center back. Jenkinson-Monreal dipercaya menjadi wing back untuk membantu serangan dari flank, Arteta-Hayden ditugaskan mengatur alur permainan sebagai double pivot, 'The Next Mario Goetze' a.k.a Thomas Eisfield mengisi post playmaker, flank diisi oleh Gnaby dan Miyaichi, dan untuk striker tentu saja ada Girou.....tunggu! Ah, ternyata bukan Giroud melainkan Bendtner. One of the worldclass striker, katanya.
Ada yang menarik dengan penampilan Bendtner malam itu. Jika anda pernah menonton film The last Samurai maka anda akan menemukan sosok tersebut dilapangan berseragam Arsenal. Keluar dari tunnel dengan wajah penuh percaya diri sembari mengunyah sesuatu. Diduga sesuatu yang dikunyah nya adalah permen karet bekas Sir Alex Ferguson.
Mari kita sampingkan dulu sosok The Last Samurai tersebut. Kalian pernah belajar teori kausalitas ? Ya, sebab akibat. Sejatinya jika anda tidak belajar untuk kuis besok maka jangan harap anda mendapatkan nilai A dari dosen anda. Sama halnya dengan Arsenal, bermateri pemain-pemain muda yang masih minim jam terbang tentu akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti, serangan balik yang tidak bisa di antisipasi, bola liar yang menguntungkan lawan, kemelut didepan gawang yang sering membuahkan kebobolan. Typical Arsenal. Hal ini yang menyebabkan munculnya goonercoaster. Setelah 2 minggu disuguhi permainan yang meyakinkan lalu tiba-tiba anda disuguhi permainan seperti itu, mengerikan.
Anda belum mengetahui goonercoaster ? What shame! You might ask google. Tenang, saya hanya bercanda. Goonercoaster adalah keadaan dimana supporter Arsenal mengalami sport jantung karna buruknya permainan Arsenal. Dianalogikan sebagai coaster karena ketegangan suporter Arsenal dibawa naik turun bak menaiki rollercoaster.
Literally, Arsenal knows how to treat their supporters. Permainan Arsenal malam itu benar-benar mengerikan tapi lebih mengerikan 'Mother Of Martis' di Insidious Chapter 2. Sering kehilangan bola dibidang tengah, kurangnya kreativitas Thomas Eisfield dalam mengatur serangan, buruknya positioning dan penyelesaian terakhir Nicklas Bendtner, dan matinya pergerakan Ryo Miyaichi dan Serge Gnabry di posisi flank. Cukup banyak pekerjaan rumah yang harus diperbaiki oleh Wenger dan Steve Bould.
Ada pengecualian di poin penyelesaian Bendtner. Mengapa Bendtner tidak bisa mencetak gol dalam laga tersebut ? Ya, playmaker yang dipasang hanya lah brondong asal tanah Bavaria yang menjadi korban Arsene Wenger. Lain cerita jika pemain seharga 42 juta pounds yang dipasang dibelakang Bendtner.
Jangan sepenuhnya menyalahkan para pemain muda tersebut, setidaknya mereka mempunyai determinasi dan semangat yang kuat. Mereka membutuhkan waktu untuk mengembangkan potensinya, membangun mental yang kuat. Kelak mereka akan menjadi pemain-pemain tumpuan Arsenal.
Mari kita ambil hal positifnya. Arsenal lolos ke round 4 COC dan akan bertemu Chelsea, melanjutkan rekor kemenangan tandang yang ke 11 berturut-turut dan tentang Nicklas Bendtner, setidaknya potongan rambut ala samurai Jepang akan menjadi trendsetter untuk beberapa bulan kedepan dan mengakuisisi pompadour nya David Beckham, setidaknya.
Well, welcome back again goonercoaster.
